يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2026

Mengisi Kemerdekaan Dengan Meninggalkan Perbuatan Dosa

 

Kata kemerdekaan, itu menunjukkan negeri ini awalnya dijajah. Jadi bukan ada tanpa perjuangan. Dari penjajahan itulah, kemudian ada perlawanan hingga kemudian dengan rahmat Allah subhânahu wa ta'ala penjajah itu terusir.

Alhamdulillah. Semoga kaum muslimin yang berjuang melawan penjajah, syahid semuanya. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.

Bila dirunut, penjajahan itu sejak dahulu sudah ada. Hingga sekarangpun masih ada. Baik penjajahan atas personal ataupun bangsa.

Penjajahan pertama kali menimpa personal adalah penjajahan Qabil atas Habil. Peristiwa ini direkam dalam Al Quran. Dari ayat 27-31 surah Al Maidah berisi kisah Habil dan Qabil. Penjajahan ini berakhir dengan syahidnya Habil.

Adapun era saat ini, yang terkategori penjajahan personal adalah setiap penindasan yang ditimpakan kepada manusia lainnya dengan ragam bentuknya. Baik individu kepada individu, kelompok kepada individu, ataupun negara kepada individu.

Sedangkan penjajahan bangsa yang hingga saat ini ada adalah penjajahan zionis Israel atas Palestina. Kapan berakhirnya? Bila Allah subhânahu wa ta'ala menghendakinya. Inilah menurut penulis kalimat yang selesai.

Dari apa yang di alami Palestina sejak 1948 hingga sekarang belum lepas dari zionis Israel, memunculkan rasa syukur kita kepada Allah subhânahu wa ta'ala. Kita berdiri disini, di Indonesia ini, aman tanpa suara peluru ataupun ancaman nyawa dari bangsa lainnya. Alhamdulillah.

Meninggalkan Perbuatan Dosa

Mengisi kemerdekaan dengan meninggalkan perbuatan dosa, mungkin agak janggal. Umumnya, disebutkan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, prestasi, kontribusi di bidang ekonomi ataupun lainnya.

Mengisi kemerdekaan dengan meninggalkan perbuatan dosa itu sinergi dengan kemerdekaan adalah berkat rahmat Allah subhânahu wa ta'ala.  Kita bersyukur terbebas dari penjajahan. Maka bentuk syukur itu dengan memuji Allah subhânahu wa ta'ala dan menampakkan nikmat yang telah Allah Subhanahu wa ta'ala berikan.

Menampakkan nikmat itu salah satunya dengan mengisi  atau memanfaatkan kemerdekaan dengan meninggalkan perbuatan dosa.

Dosa adalah nilai atau balasan atas perbuatan maksiat atau pelanggaran atas perintah ataupun larangan Allah subhânahu wa ta'ala.  Bila pahala bisa diwujudkan dalam bentuk kebaikan di dunia ataupun di akhirat, maka demikian pula dosa.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ

"Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)." (QS. Al-An'am 6: Ayat 160)

Realisasi dari dosa bisa dirupakan dalam berbagai keburukan yang akan menimpa pelakunya di dunia juga di akhirat. Di dunia, sudah banyak sekali contohnya. Kenapa kaum  Nabi Nuh 'alaihissalam di tenggelamkan? Kenapa kaumnya Nabi Luth 'alaihissalam dibinasakan dengan hujan batu dan bumi dibalik? Karena mereka melakukan perbuatan dosa.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٍ مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن لَّكُمۡ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡهِم مِّدۡرَارًا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَٰرَ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمۡ فَأَهۡلَكۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ وَأَنشَأۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا ءَاخَرِينَ

"Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka." (QS. Al-An'am 6: Ayat 6)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa perbuatan dosa bisa menjadi jalan dicabutnya nikmat dan ditimpakannya azab. Baik itu skala individu, kaum hingga suatu bangsa.

Jika demikian, mengisi kemerdekaan dengan meninggalkan perbuatan dosa harus menjadi agenda seluruh rakyat di negeri ini untuk menjaga eksistensi nikmat kemerdekaan.

Di mulai dari top leader yaitu bapak presiden, mengagendakan tidak melakukan perbuatan dosa. Terus ke semua jajaran yang duduk di birokrasi dan semua pegawai negara. Maka birokrasi dan instansi negara akan jauh dari perbuatan tidak amanah pejabat, tidak ada korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi data, dan penyimpangan amanah lainnya.

Selanjutnya, semua rakyat, dengan jabatan apapun, posisi apapun, tingkat ekonomi apapun, semuanya mengagendakan mengisi kemerdekaan dengan tidak melakukan perbuatan dosa. Maka semua tatanan akan aman dari menyakiti lainnya, kejahatan, kriminalitas, tawuran, buruk akhlaq, dan masalah sosial lainnya. Kehidupan akan rukun, damai, saling menguatkan dan terbentuk sikap taawun (tolong menolong) dalam kebaikan dan ketakwaan.

Akhirnya, disimpulkan bahwa mengisi kemerdekaan dengan meninggalkan perbuatan dosa harus menjadi agenda bagi semuanya.

Allah Subhânahu wa ta'ala mengingatkan dalam firmanNya:

وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا

"Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya." (QS. Fatir 35: Ayat 45)

Khatimah

Mengisi kemerdekaan dengan meninggalkan perbuatan dosa adalah menapaki jalan meraih berkah dari langit dan bumi.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)

Wallahua'lam bis shawâb.




Dipun Waos Piantun Kathah