"Hah?"
"Mang bisa dikait-kaitkan begitu?"
Ya coba deh kita kait-kaitkan.
Sharaf itu kan ilmu yang mempelajari dari pembentukan kata hingga hal-hal yang mengubah kata itu dari bentuk asalnya. Muncullah namanya wazan bin pola kata.
Nah, manusia memang bukan kata, tapi dia punya pola asal loh. Kita pinjam aja istilahnya sharaf yaitu wazan.
Jadi, manusia itu asalnya memiliki wazan yaitu fitrah Islam. Wazan fitrah Islam ini diambil dari percakapan roh dengan Allah subhânahu wa ta'ala. Percakapan roh ini sebelum disatukan dengan raga. Jadi sebelum menghirup udara bumi. Berikut rekaman percakapannya.
Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ ۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآ ۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,"" (QS. Al-A'raf 7: Ayat 172)
Nah, ba'da bin setelah manusia menghirup udara bumi, maka wazan fitrah Islam ini ibaratnya ada yang terkena huruf-huruf ilah -huruf-huruf berpenyakit- maka wazan fitrah Islam tadi ada yang mengalami perubahan bentuk. Ada yang mengalami i'lal, i'dal atau idgom. Akhirnya, ada yang kemudian menjadi Nasrani, Yahudi, Musyrik dan lainnya.
Nah, hal ini sebagaimana Hadist berikut ini. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, . "Tidaklah seorang anak lahir kecuali dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Majusi" (HR. Bukhari)
Manusia Dalam Kehidupannya
Bila dalam nahwu membahas i'rob bin kondisi harokat akhir dari suatu kata, maka manusia dalam menjalani hidup ini, tidaklah sâkin tapi dia mutaharik.
Apa itu sâkin dan mutaharik?.
Sâkin itu huruf yang ngak menerima harokat tapi dikuhumi selalu sukun. Adapun huruf yang menerima harokat disebut mutaharik.
"Hadeh.. ada-ada aja."
Loh ini ngak mengada-ngada, mang begitu ilmunya.
Terus apa mutaharik dan sâkinnya manusia?
Gini-gini, manusia itu mau ngak mau harus mutaharik. Jadi harokat-harokat itu di-ibaratkan sebagai nikmat, riski, karunia, ujian, musibah, cobaan, bala', dan lain-lainnya. Inilah yang kemudian disebut manusia itu mutaharik.
Manusia mau ngak mau harus menerima harokat-harokat itu. Silih berganti dalam hidupnya. Kadang tersenyum, tertawa, ketika menerima riski, nikmat, atau karunia. Dan kadang meneteskan air mata, menangis ketika tertimpa musibah, ujian, atau semisalnya.
Allah subhânahu wa ta'ala berfirman:
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ
"dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis," (QS. An-Najm 53: Ayat 43)
Ada kondisi manusia bak alif yang dihukumi sâkin. Nah sukun dalam imla' itu disebut harokat paling leman loh dan harokat yang jomblo juga. Harokat yang jomblo ini mengutip pernyataan seorang ustadz pengajar imla'. Hehe.
Nah, mereka yang sepanjang hidupnya menengadahkan tangan bisa dikatakan sâkin. Lemah tertimpa harokat sukun berupa kemelaratan dan kemiskinan. Ataupun juga orang yang hingga wafatnya jomblo. Bak sukun yang tidak memiliki huruf yang cocok untuk bersanding dengannya. Kita berlindung kepada Allah subhânahu wa ta'ala dari hal demikian itu.
Tsumma bin kemudian, manusia selama hidupnya pasti melakukan perbuatan. Kadang ada perbuatan laksana lam syamsiah yang tertulis tapi tak terbaca. Kadang ada yang seperti lam qamariyah yang tertulis juga terbaca.
"Wah, menarik-menarik bagaimana ini penjelasannya?"
Begini ya bani Adam, diantara contohnya, ada peluh yang menetes, ada tenaga yang tercurah setiap harinya, siapa mereka yang setiap harinya demikian itu? Dialah ayah dan ibu. Semuanya itu bak lam syamsiah. Tertulis artinya terlaksana, dilakukan. Tapi tak terbaca artinya tidak masuk dalam manuskrip sejarah. Tidak ada yang membaca kisah perjuangan orang tua pagi, siang, sore, malam dalam mengais penghidupan tuk keluarganya. Semua berjalan dan berlalu.
Hiks hiks... Betapa mulianya orang tua.
Sisi lain, ada perbuatan bak lam qomariyah. Bahkan semua yang dilakukan dari bangun tidur hingga kembali tidur menjadi lam qomariah. Itu contohnya adalah apa yang dilakukan Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Hampir semua dari beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tertulis dalam sirah nabawiyah dan hadist. Terbaca hingga diteladani. Tidak berhenti sampai disitu. Tapi berlanjut pada didakwahkan kehidupan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Masih lanjut lagi. Dunia hingga akhirat mereka yang meneladani Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam meraih cinta Allah subhânahu wa ta'ala.
Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 31)
"Hem...sampai tegang bin spanéng nih membacanya!"
Serius baca berarti ya! Sip bin jempol!
Lanjut ke balaghoh nih. Dalam kehidupan ini mau di badi', atau di majasi atau di ma'ani, nah semua kembali ke masing-masing individu.
Ambil satu aja deh yaitu badi' yang dikenal dengan ilmu memperindah kalimat. Kehidupan bak musyabbah dengan musyabbah bih nya kalimat. Bagaimana kemudian kehidupan ini dimuhassinat baik dari sisi lafadz maupun maknawiyahnya. Dari sisi lafadz adalah memuhassinat apa yang terucap lisan. Dengan berkata yang baik, jujur, dibasahi lisan dengan zikir, digunakan tuk tilawah Quran dan menjauhi kata-kata kotor, ghibah ataupun kata-kata tak bermanfaat lainnya.
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, "Siapakah diantara orang Islam yang paling baik?". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Yaitu orang Islam yang tidak menyakiti orang Islam lainnya baik dengan lisannya maupun dengan tangannya" (HR. Muslim)
Adapun dari sisi maknawiyah adalah memuhassinat perbuatan. Yaitu dengan berbagi amal salih. Mata untuk melihat objek yang halal. Telinga untuk mendengar suara yang ma'ruf. Hidung untuk menghirup yang bermanfaat. Kaki tangan untuk kebaikan pada diri maupun sesama. Dengan akal sehat dan qalbun salim itulah yang menghantarkan terwujudnya muhassinat tersebut.
Manusia dalam perjalanan.
Jalannya lurus aslinya.
Jalan menuju Allah rabbul'âlamîn.
Tapi manusia yang berbelok-belok untuk sampai kepadanya.
Semoga Allah Subhânahu wa ta'ala mencurahkan rahmat dan berkahNya untuk hambaNya yang beriman.
Âmîn yâ rabbal'âlamîn.
Wallahua'lam bis shawâb.
