Satu yang pasti meningkat dan itu hampir dialami oleh semua muslimin adalah peningkatan frekuensi makannya. Hehe. Betul apa tidak?
Ramadan mengajarkan siang tidak makan dan minum. Bagaimana dengan siang di Syawwal ini? Hem, kunjung sana sini aneka snack tersaji hingga suguhan olahan makananpun gratis disantap bareng-bareng. Aneka minumanpun tak terlewat mendampinginya.
Perilaku Konsumsi yang Keliru dan Pengaruhnya
Setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi, pasti mengandung gizi tertentu. Gizi? Walah, tidak berfikir sampai situ. Berdoa? Semangat memakannya melupakan berdoa dulu. Langsung santap aja. Sergap!
Nah, coba kita merenung sebentar saja. Coba dirasa-rasa bagaimana suasana keimanan kita, suasanan kedekatan hati kita dengan Allah subhânahu wa ta'ala, dan perilaku nafsu kita? Bandingkan semua itu dengan saat kita berpuasa di bulan Ramadan dengan saat di bulan Syawwal ini.
Memang sih, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keimanan, kedekatan hati dengan Allah subhânahu wa ta'ala, dan perilaku nafsu. Tapi, sadarkah kita, ternyata oh ternyata, makanan dan minuman yang kita konsumsi memiliki pengaruh pada keimanan, kedekatan kepada Allah subhânahu wa ta'ala dan perilaku nafsu. Oiyakah?
Keimanan sebagai pangkal dari ketaatan, bisa melemah dengan perilaku konsumsi yang keliru. Demikian pula rasa kedekatan kita kepada Allah subhânahu wa ta'ala. Sebaliknya, nafsu dengan perilaku konsumsi yang keliru malah mengalami peningkatan. Waduh!
Perilaku konsumsi yang keliru disini, penulis batasi pada dua aspek saja dengan objek konsumsi dianggap halal semuanya.
Pertama, melewatkan berdoa. Seminimal berdoa adalah membaca basmallah sebelum makan atau minum dan hamdalah sesudahnya. Dalam hadistnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; "Tiap-tiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan membaca basmallah maka pekerjaan tersebut kurang berkah" (HR. Abu Daud)
Dari Umar bin Abi Salamah radiyallahu 'anhu, dia menceritakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bacalah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang didekatmu" (HR. Mutafaqun 'alaihi)
Dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu, dia menceritakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian minum dengan satu nafas seperti minumnya keledai, tetapi minumlah dua atau tiga kali, dan bacalah bismillah jika kalian hendak minum, dan alhamdulillah jika telah selesai melakukannya" (HR. Tirmidzi)
Dalam hadist lain riwayat dari Jabir bin Abdullah radiyallahu 'anhu, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seseorang menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya dan ketika hendak makan, maka setan berkata, 'kalian (bangsa setan) tidak bisa menginap dan tidak bisa makan!'. Jika seseorang tidak menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya maka setan berkata, 'Kalian bisa masuk dan bisa menginap'. Jika seseorang tidak menyebut nama Allah sewaktu hendak makan, maka setan berkata, 'Kalian bisa menginap dan makan malam'. (HR. Muslim)
Nah, itulah diantara hadist terkait makan dan minum. Ternyata, keberkahan atas makanan dan minuman adalah jika berdoa sebelum mengkonsumsinya!. Keberkahan inilah yang memberikan pengaruh terhadap stabilitas iman, kekuatan kesadaran dan perasaan akan kedekatan kepada Allah subhânahu wa ta'ala, baik itu berupa kesadaran akan pengawasanNya dan perasaan dekat dengan Allah subhânahu wa ta'ala. Sebaliknya, keberkahan ini menjadikan nafsu su' ( nafsu yang buruk) melemah.
Oh, ternyata membaca basmallah (بسم الله atau بسم الله الرحمن الرحيم) mendatangkan keberkahan. Jadi tahu deh!
Sebaliknya, melewatkan berdoa, melewatkan membaca basmallah, menjadi jalan setan untuk ikut masuk ke dalam makanan atau minuman yang kita konsumsi. Dan bila setan bisa ikut masuk, maka tidak ada pengaruh ma'ruf atas kehadirannya. Ia akan memberikan efek negatif berupa melemahkan keimanan, berujung pada kendurnya ketaatan, malas ibadah, dan perasaan dekat dengan Allah subhânahu wa ta'ala menurun sehingga berkurang kesadarannya akan pengawasanNya.
Sebaliknya, nafsu buruk bisa naik level. Wujudnya bisa berupa lisan, mata, telinga, hati, akal yang tidak terjaga. Terus bagaimana?
Bila sekarang sudah mengetahui bahwa tidak berdoa sebelum makan dan minum itu perilaku konsumi yang keliru, maka hayuk ditinggalkan!
Kedua, berlebihan dalam makan dan minum. Baik frekuensinya maupun kuantitasnya. Frekuensi yang sedikit-dikit makan akan mengambil banyak menit untuk makan. Bila dikumpulin menit itu bisa mengambil waktu beberapa jam dalam sehari. Terlebih jika makannya sambil ngobrol. Tambah tak putus-putus makannya! Cie!
Padahal oh padahal, tanpa kita sadari, makan telah mencuri banyak waktu yang kita miliki. Bisa jadi, ada aktivitas yang lebih berfaedah untuk mengisi waktu tersebut selain nyantap jajanan lebaran sambil ngerumpi. Iya juga ya! Mikir!?!
Berikutnya berlebih kuantitasnya. Makan melewati batas kenyang. Kenyang menyedot banyak oksigen ke area pencernaan. Hal ini bisa menjadikan seseorang terserang kantuk. Apabila sudah mengantuk, pengennya tidur saja, kadang lupa atau jadi enggan salat bila belum salat, malas membaca Al Quran bila belum membacanya.
Perilaku berlebihan dalam makan dan minum ini tidak sesuai dengan petunjuk Allah subhânahu wa ta'ala. Kaum muslimin diperintahkan untuk meninggalkannya. Allah subhânahu wa ta'ala juga tidak menyenanginya.
Allah subhânahu wa ta'ala berfirman;
يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 31)
Tidak ada suatu hal yang dibenci Allah subhânahu wa ta'ala kecuali itu pun buruk bagi manusia. Tidak ada sesuatu yang dilarang Allah subhânahu wa ta'ala kecuali itupun tidak baik bagi manusia. Dan faktanya memang demikian. Berlebihan dalam makan dan minum memberikan efek negatif bagi pengkomsumsinya.
Ikut mengingatkan al Faruq, Umar bin Khattab radiyallahu 'anhu, Ia berkata, "Wahai sekalian manusia, janganlah kalian memenuhi perut kalian, karena dengannya kalian akan malas menegakkan salat, juga merusak hati kalian, dan akan menimbulkan penyakit". Tuh kan!
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ikut mengkhawatirkan jika umatnya berlebihan dalam makan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bejana terburuk yang di-isi oleh anak Adam adalah perutnya sendiri. Cukuplah baginya suapan-suapan untuk menegakkan badannya. Jika tidak bisa, maka jadikan sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernafas" (HR. Tirmidzi, an Nasai, dan Ahmad).
Ternyata bukan makan lagi, lagi dan lagi! Kabur!!!!!! Yup, ditinggalkan perilaku mengkonsumsi hingga kelewat kenyang. Secukupnya dan pandai-pandai membagi waktu, sehingga tidak habis waktu di depan rodong jajan, toples snack, blek roti. Haha.
Khatimah
Dua perilaku konsumsi yang keliru yaitu melewatkan berdoa dan berlebih dalam makan dan minum bukanlah perilaku yang diajarkan oleh kitabullah dan sunnah nabi. Dan ternyata, tidak ajarkan demikian itu karena dua perilaku tersebut memberikan efek negatif yang signifikan atas keimanan kita, kedekatan kita kepada Allah subhânahu wa ta'ala dan perilaku nafsu. Wallahua'lam bis shawâb.
