يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Rabu, 18 Februari 2026

Satu Ramadhân

Bukan yang pertama kali terjadi perbedaan. Tapi tetap menarik dibahas. Itulah perbedaan penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal, 1 Dzulhijjah.

Contohnya 1 Ramadhan 1447 H tahun ini, pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadhan pada 19 Februari 2026. Setelah pantauan hilal tidak mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Adapun diantara ormas yang penetapannya berbeda dengan pemerintah adalah Muhammadiyah dengan hisab globalnya menetapkan 1 Ramadhan pada 18 Februari 2026.

Di luar Indonesia, juga berbeda-beda. Arab Saudi, UEA, Yaman, Palestina, Bahrain, Irak, Lebanon, Qatar, Kuwait dan lainnya mengumumkan hilal 1 Ramadhan telah nampak sehingga 1 Ramadhan pada 18 Februari 2026.

Adapun beberapa negara Asia seperti Singapura, Azarbeijan, Kazaktan, Kirkistan, Uzbekistan dan lainnya mengenapkan Sya'ban, setelah pantauan hilal 1 Ramadhan tidak nampak.

Harapan kaum muslimin tentunya 1 Ramadhan yang sama, meski berbeda-beda negaranya. Sebagaimana bulan yang hanya 1, dan indahnya bila seluruh kaum muslimin bersama dalam 1 Ramadhan, 1  Syawal, 1 Dzulhijjah.

Yang Mengharukan

Ada kalimat yang mengharukan disetiap selesai pengumuman hilal dari pemerintah Indonesia. Sepengetahuan penulis, selalu dan selalu Menag sebagai perwakilan pemerintah di negeri ini, tidak melarang mereka yang mengambil pendapat sesuai keyakinannya meskipun berbeda dengan yang ditetapkan pemerintah.

Satu sisi pernyataan itu melegakan yang berbeda. Karena mendapatkan izin dari pemerintah. Pada akhirnya tidak ada yang tidak mentaati pemerintah. Inilah yang mengharukan itu.

Satu sisi yang lain, juga membahagiakan pemerintah. Dengan kelapangannya dan kelapangan yang berbeda, semoga limpahan pahala terlimpah dan membawa negeri ini pada petunjuk dan rahmat Allah subhânahu wa ta'ala. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.

Renungan Bagi Ulama

Para ulama adalah teladan bagi kami yang lemah ilmu. Bukan hanya ulama di negeri ini. Tapi ulama di semua negeri kaum muslimin.

Para ulama mengerti kenapa terjadi perbedaan. Adapun kami yang lemah ilmu hanya mengikuti.

Ulama pula yang memegang amanah penyelamat umara dan umat dari kekeliruan. Maka besar tanggungjawab ulama atas umara dan umat ini. Persatuan ulama salah satu kunci penyelamatnya. Bila ulama terpecah, bagaimana dengan kami yang lemah ilmu.

Akhirnya, teriring doa semoga ulama di semua negeri kaum muslimin dapat bersatu dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang dialami kaum muslimin. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dipun Waos Piantun Kathah