يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Tampilkan postingan dengan label Hijab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hijab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 April 2026

Ada Perintah Ada Larangan, Manusia Punya Kemauan

Jika setiap keluar rumah harus menutup aurat, ada diantara muslimah yang merasa itu ribet, panas dan terasa berat. Hayo siapa yang merasa demikian?

Adapun kasus satunya lagi, ada yang ingin rutin menutup aurat. Tidak merasa ribet dan berat. Tapi ada tekanan yang bersifat melarang dari keluarga. Keluarga siapa ya ini?

Dua kasus ini, pada satu hal yang sama yaitu terkait menutup aurat. Dua individu dengan pandangan dan penerimaan yang berbeda atas perintah menutup aurat sebagaimana tersebut di hadist berikut ini:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Asma', jika seorang wanita telah menjalani haid, maka tidak diperbolehkan baginya dilihat kecuali ini dan ini. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya" (HR. Abu Daud)

Kenapa Bisa Berbeda?

Ada mungkin yang menjawab karena beda orang githu! Shalat yang wajib, kan juga ada yang ngerjain, ada yang tidak. Hadeh!

Kalau menurut penulis, wajarnya setiap muslim tidak ada beda pandangan dan penerimaannya atas suatu hal yang diwajibkan oleh Allah subhânahu wa ta'ala. Betul?

Kalau balik ke individu, memang manusia menciptakan dirinya sendiri? Trus maunya, semaunya gitukah?

Btw menutup aurat atau tidak, sama-sama ada balasannya loh!. Hayo pilih mana, dibalas surga karena menutup aurat atau neraka karena tidak menutup aurat?.

Oiya juga, Allah Subhânahu wa ta'ala yang menciptakan aurat, ngak mau loh aurat hambaNya terlihat saat menyembahNya. Iyakan? Sampai pada beli mukena aneka harga tuk menutupi aurat saat menyembahNya. Ups!

Bila Allah subhânahu wa ta'ala tidak mau disembah dalam kondisi hambaNya membuka aurat, itu artinya aurat itu suatu aib, cela yang itu harus ditutup. Nah tuh!

Dan memang betul secara bahasa arti 'aurat adalah anggota badan yang tidak baik dibukannya.

Alasan Mangkir Berhijab

Usut diusut, penulis menyimpulkan penyebab mangkir dari berhijab itu hanya satu faktor saja loh!. Apa itu?

Yaitu penempatan Allah subhânahu wa ta'ala pada diri seseorang. Maksudnya?

Begini gaes, jika Allah subhânahu wa ta'ala diposisikan di atas diri kita maka kita akan mudah menerima dan melaksanakan perintah Allah subhânahu wa ta'ala. Taat begitu jadinya. Asyik!

Sebaliknya, jika diri kita diposisikan di atas Allah  subhânahu wa ta'ala maka akan sulit menerima dan melaksanakan perintah Allah subhânahu wa ta'ala. Berani melawan Allah subhânahu wa ta'ala. Kabur!

Memang Bukan Hal Mudah

Kuasa Allah subhânahu wa ta'ala yang menciptakan manusia lengkap dengan akal, hati, nafsu sehingga manusia memiliki keinginan dan kemauan. Disinilah manusia diuji. Keinginan dan kemauan dirinya dimenangkan atas perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala atau ia sesuaikan dengan perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala.

Gaes, memang untuk sampai pada kondisi keinginan dan kemauan sesuai perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala bukan hal yang mudah. Membutuhkan proses tanpa ada batas waktu. Butuh perjuangan.

 Pertama, berproses dan berjuang nge-on kan akal dan hati hingga sadar akan hakikat diri sebagai hamba dari Allah subhânahu wa ta'ala. Hingga rida dengan Allah subhânahu wa ta'ala. Jreng-jreng! Bagaimana sanggup tuk ni gaes?

Kedua, Membutuhkan perjuangan tuk berdoa kepada Allah subhânahu wa ta'ala agar dijadikan keinginan dan kemauan suitable dengan perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala.

Gaes, bila fakta menunjukkan banyak orang salih yang mampu menggapai itu semua. Bagaimana dengan kita? Harus bisa ya!

Ditutup Dengan Apa Aurat?

Pastinya tidak akan mau menutup aurat dengan goni, karung ataupun kerdus. Hehe. Pakai kainlah gaes. Tapi jangan asal kain. Bisa kena delik hukum di hadist berikut ini;

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya, yaitu suatu kaum yang bersamanya cambuk seperti ekor sapi yang digunakannya untuk mencambuk orang-orang, dan wanita-wanita berpakaian tetapi telanjang, genit, kepalanya seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga, tidak juga mencium bau surga, sesungguhnya surga tercium dari jarak ini dan itu" (HR. Muslim)

Nah tuh, bisa kena hukuman ngak mencium bau surga bila baju penutup auratnya nerawang atau membentuk lekuk-lekuk tubuh. Trus kira-kira itu apa nama kain penutupnya? Itu diterangkan di ayat berikut ini gaes.

Pertama, kerudung (khimar) sebagai penutup kepala hingga dada.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا ۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur 24: Ayat 31)

Kedua, pakai jilbab. Jilbab diterangkan di ayat berikut ini. Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59)

Jadi gaes, bila keluar rumah berhijab yang lengkap ya, kerudung dan jilbab.  Hijabnya tidak nerawang, tidak membentuk lekuk tubuh, menutupi seluruh aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Gimana mudahkan? Semoga Allah subhânahu wa ta'ala mudahkan bagi kita dalam mengamalkannya. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.

Wallahua'lam bis shawâb.

Sabtu, 19 Februari 2022

Istiqamahlah Berhijab! Solidaritas Tuk Muslimah India

Sekitar satu bulan lalu terbit tulisan terkait rencana genosida muslim India. Bisa pembaca baca disini https://menggoreskanide.blogspot.com/2022/01/hadang-genosida-umat-islam-india.html?m=1

Dan di Februari ini, publik dunia digemparkan dengan larangan hijab bagi pelajar dan mahasiswa di India. Beritanya bisa dibaca disini https://www.republika.co.id/berita/r7ej24313/di-balik-larangan-hijab-di-india.

Kebijakan pemerintah India ini sudah dikecam oleh OKI. Tapi reaksi pemerintah India malah jauh dari jati diri negara yang melindungi seluruh rakyatnya. Kementerian Luar Negeri India malah balik mengecam OKI. Dikatakan juga, "Komentar  bermotivasi masalah internal kami, tidak diterima" (Sumber: https://international.sindonews.com/read/687259/40/dikritik-57-negara-oki-soal-larangan-hijab-india-kesal-)

Menguji Tingkat Keimanan 

Reaksi apa yang terbersit dalam hati dan akal kita saat mendengar berita larangan hijab atas saudara kita di India menjadi indikator iman kita. 

Biasa-biasa saja, kasihan, tidak peduli, gemas, marah tidak rela dengan perlakuan tersebut, atau malah setuju?

Sesungguhnya Nabi SAW telah mengingatkan melalui sabdanya, "Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai sesuatu itu bagi dirinya" (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam syarah hadist arbain  Ibnu Daqiqil Ied dijelaskan makna 'sesuatu bagi saudaranya' pada hadist tersebut adalah ketaatan dan sesuatu yang halal. 

Ketaatan saudara kita di India untuk berhijab dilarang oleh pemerintahan India. Maka sebagai seorang mukmin sudah seharusnya kita menentang kebijakan tersebut. 

Seruan dalam hadist tersebut berlaku untuk semua muslim. Dimanapun wilayahnya. Ikatan yang mengikat muslim satu dengan lainnya adalah iman. Sehingga muslim dimanapun adalah bersaudara. Jadi, menjadi panggilan iman bila kita menunjukkan solidaritas kita terhadap muslim India. 

Satu sisi lainnya, kita harus bersyukur karena di negeri ini, kita bisa berhijab tanpa rintangan. Jadi, bila masih ada yang enggan berhijab, malulah kita kepada Allah SWT dan muslimah India yang kokoh berhijab walau harus berhadapan dengan penguasa.

Bukan Karena Melanggar Kebebasan Beragama

Suara dukungan kita untuk muslimah India, agar istiqamah berhijab dan menentang kebijakan pemerintah India bukan atas nama melanggar hak kebebasan beragama.

Ide kebebasan beragama ini lahir dari sekulerisme. Atas nama HAM dalam konsep kebebasan beragama ini, setiap orang diberi kebebasan sebebas-bebasnya untuk bergama atau tidak. Semua agama benar.  Gonta ganti agama juga silahkan. Tentu hal ini bertentangan dengan aqidah Islam. Dimana Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah SWT (Qs. Ali Imran: 19) Dan murtad menjadi hal yang terlarang dalam Islam (Qs. Al Baqarah: 217). Dan Islampun melarang memaksa non muslim masuk Islam (QS. Al Kafirun: 6)

Dengan demikian, solidaritas yang kita serukan untuk muslimah India bukanlah di bangun dari sekulerisme. Tapi dibangun dan terlahir dari iman. Inilah yang akan menghantarkan pada pahala dan menjadi pembela di yaumul hisab. Dan menghasilkan energi solidaritas yang bisa menembus pintu-pintu langit. Dengan itu, Allah SWT bila berkehendak akan menurunkan pembelaan terhadap sudara- saudara kita di India. Aamiin.

Khatimah

Fakta ketidakadilan, kezaliman yang ditimpakan kepada umat Islam di India, Rohingya, Uighur, Palestina dan wilayah lainnya mengetuk iman kita. Menyadarkan umat Islam, bahwa pemimpin di negeri mereka berada tidak bisa memberikan perlindungan bahkan untuk hal asasi yaitu menjalankan keyakinan dan ketaatan beragama. 

Bila demikian, tidakkah kita ingat masa-masa saat ada kekhilafan Islam, saat umat Islam memiliki seorang khalifah (amirul mukminin) yang memimpin, melindungi, mengayomi umat Islam?

Maka, bertahan di sistem kapitalisme-sekuleriame yang menglobal saat ini, bukan pilihan tepat bagi umat Islam. Rasulullah SAW telah memberikan contoh bahkan menjadi nash, bahwa umat Islam harus hidup dalam sistem Islam. Umat Islam harus memiliki seorang khalifah. 

Semoga Allah SWT segera mewujudkan sabda NabiNya akan tegaknya kembali khilafah  'ala minhajin nubuwwah. Aamiin aamiin yaa mujiibassaailiin. 

Wallahua'lam bis showwab.





Dipun Waos Piantun Kathah