يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Tampilkan postingan dengan label kualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kualitas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2026

Tangisan dan Tingkatan Kualitasnya

Orang menangis kadang disebut cengeng. Tidak demikian juga ya?! Karena air mata itu bisa mengalir dengan seizin Allah subhânahu wa ta'ala.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ

"dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis," (QS. An-Najm 53: Ayat 43)

Ada banyak kondisi yang menjadikan seseorang menangis. Adapun kita, seringnya menangis saat apa? Nah jawaban atas pertanyaan inilah yang kadang dijadikan alasan menyebut orang yang menangis itu cengeng.

Sekarang, mari kita ulas tangisan dari sisi yang berbeda, karena tangisan itu ada tingkatkan kualitasnya.

Kualitas tangisan ini ditentukan oleh apa? Ternyata, kualitas tangisan itu tidak ditentukan oleh kuantitas tangisannya. Seberapa sering menangis bin frekuensi tangisan tidak menentukan kualitas tangisan. Pun demikian pula volume tangisan. Andai sampai 1 liter air mata yang membasahi pipi maka banyaknya air mata ini tidak menjadi penentu kualitas tangisan.

Terus ditentukan oleh apa kualitas tangisan? Jawabannya, ditentukan oleh faktor penyebab tangisan.

Tingkatan Kualitas Tangisan

Pertama, tangisan yang menempati posisi tidak berkualitas. Tangisan tidak berkualitas adalah tangisan karena perkara haram. Menangisi sesuatu yang haram. Bukan menangisi karena telah melakukan keharaman, tetapi menangis karena tidak melakukan yang haram.

Contoh tangisan tidak berkualitas ini diantaranya; menangis bila gagal mencontek saat ulangan, menangis ketika gagal khalwat sama pacar, menangis ketika tidak miras, menangis bila tidak membully orang, menangis untuk mengelabuhi orang lain sebagaimana tangisan saudara-saudaranya Nabi Yusuf 'alaihissalam.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ عِشَآءً يَبۡكُونَ

"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis." (QS. Yusuf 12: Ayat 16)

Tangisan tidak berkualitas  ini nihil pahala, malah berdosa, sekaligus menjauhkan pelakunya dari ketaatan kepada Allah subhânahu wa ta'ala.  

Kedua, tangisan yang berkualitas rendah, yaitu menangis karena perkara mubah. Contoh tangisan berkualitas rendah adalah menangis karena tim sepak bola atau tim olah raga lainnya yang didukung kalah,  menangis karena rebutan HP atau mainan, menangis tidak diajak rekreasi, dan lainnya.

Tangisan kualitas rendah ini seperti tangisan anak-anak kecil. Sebagaimana penyebab tangisan karena perkara mubah, maka tangisan inipun tidak bernilai pahala. Hanya sekedar ungkapan perasaan seseorang saja.

Ketiga, tangisan yang berkualitas menengah, yaitu menangis karena perkara sunnah. Tangisan karena perkara sunnah ini menunjukkan keinginan seorang hamba untuk lebih mendekat kepada Allah subhânahu wa ta'ala, akan tetapi keinginannya untuk taqarub ilallah ini tertunda atau tidak terlaksana karena suatu hal, maka menangislah ia.

Diantara contoh tangisan berkualitas menengah ini adalah menangis ketika terlewat malamnya tanpa tahajud, menangis karena terhalang melaksanakan puasa sunnah, menangis karena batal bersedekah untuk kaum muslimin yang tertindas seperti di Palestina, menangis tidak bisa umroh, dan lainnya.

Tangisan ini berharga dihadapan Allah subhânahu wa ta'ala meski atas perkara sunnah. Ia termasuk tangisan yang baik (hasanah). Hanya hamba pilihan yang bisa sampai meneteskan air mata ketika terhalang melaksanakan yang sunnah. Mereka ini biasanya sudah bagus dalam ibadah wajibnya dan terus ingin taqarub ilallah melalui amalan sunnah.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ قُلۡتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ

"dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu," lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang)." (QS. At-Taubah 9: Ayat 92)

Tangisan kualitas menengah ini tidak sia-sia. Ada balasan kebaikan bagi pelakunya. Bukankah setiap kebaikan dibalas berlipat oleh Allah subhânahu wa ta'ala?

Allah subhânahu wa ta'ala berfirman;

...مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا

"Siapa yang berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. .." (QS. Al-An'am 6: Ayat 160)

Tangisan kualitas menengah selain tangisan karena terlewat mengerjakan yang sunnah adalah tangisan taubat. Mereka yang menyesal setelah berbuat dosa, apakah karena meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Tangisan ini bagian dari air mata taubat sehingga include dalam rangkaian taubat seseorang. Taubat diikuti dengan air mata penyesalan menjadi tanda taubatan nasuha (penyesalan yang dalam dan keinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi).

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّئَاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِي ٱللَّهُ ٱلنَّبِيَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٞ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."" (QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)

Keempat, tangisan berkualitas tinggi, yaitu tangisan atas perkara wajib. Menangis bukan karena meninggalkan yang wajib. Tetapi terhalangnya ia melakukan suatu kewajiban karena suatu hal. Jadi tidak ada niatan untuk tidak melakukan yang wajib.

Contoh tangisan ini seperti menangisnya kepala keluarga yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga karena kelemahannya, menangisnya anak yang belum berbakti kepada kedua orang tanya, seperti juga  tangisan Aisyah radiyallahu 'anha. Dari Aisyah radiyallahu 'anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah pernah masuk menemuinya ketika dalam keadaan menangis, maka beliaupun bertanya, "Apakah engkau sedang haid?" Aisyah menjawab, "Benar". Lalu Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ini merupakan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi kaum wanita. Untuk itu kerjakanlah apa yang yang dikerjakan oleh orang yang menunaikan haji, tetapi janganlah engkau thawaf sehingga kamu mandi" (HR. Muslim)

Menangisnya Aisyah radiyallahu  'anha dalam hadist tersebut karena ia tidak bisa mengerjakan perkara wajib -thawaf- karena haid. Aisyah radiyallahu 'anhai pun sedih dan menangis. Tangisan Aisyah radiyallahu 'anha ini ekspresi kesedihan karena kuatnya keinginannya melakukan thawaf untuk beribadah kepada Allah subhânahu wa ta'ala tetapi hal itu terhalang oleh haid.

Tangisan ini termasuk tangisan hasanah. Uzur syar'i  yang itu dibenarkan syara' bagi seseorang untuk tidak melakukan suatu ibadah tapi seseorang itu menangis. Air mata yang mengalir ini adalah tanda ketaatan dan kuatnya ghiroh (semangat) dalam beribadah kepada Allah subhânahu wa ta'ala.

Kelima, tangisan istimewa, tangisan ini kualitas tertinggi. Tangisan istimewa yaitu tangisan mereka yang tidak melakukan dosa, juga tidak meninggalkan yang wajib, akan tetapi tangisan karena khauf (takut kepada Allah subhânahu wa ta'ala), muraqabatullah (merasa diawasi Allah subhânahu wa ta'ala), raja' (harapan akan ampunan dan rahmat Allah subhânahu wa ta'ala).

Tangisan istimewa ini akan menjadi pembela di yaumul hisab. Pelakunya akan mendapatkan naungan dari Allah subhânahu wa ta'ala. Dalam sebuah hadistnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, " Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naunganNya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu ... seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah air mata istimewa yang hanya dimiliki oleh hati yang bersih, hati yang selamat, hati yang dekat dengan Allah subhânahu wa ta'ala.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنۡ هَدَيۡنَا وَٱجۡتَبَيۡنَآ ۚ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُ ٱلرَّحۡمَٰنِ خَرُّواْ سُجَّدًا وَبُكِيًّا

"Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya'qub), dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis." (QS. Maryam 19: Ayat 58)

Khatimah

Nah, mari kita koreksi tangisan-tangisan kita! Terkategori yang manakah? Tidak berkualitas, kualitas rendah, kualitas menengah, kualitas tinggi, atau kualitas istimewa?

Wallahua'lam bis shawwâb

Dipun Waos Piantun Kathah