Pertanyaan tersebut bisa dijawab berbeda dari setiap orang tua. Tapi, satu jawaban yang hampir bisa dipastikan ada, kedua orang tua itu akan menjawab untuk anak-anak mereka.
Jerih payah, peluh keringat, lelah tidak dirasa oleh kedua orang tua. Mereka ingin melihat keturunannya saleh salehah dan mapan.
Dalam pikiran dan qalbun mereka, tersimpan semua nama anak-anaknya. Dipikirkan, didoakan, dibanggakan, penuh harap kepada Allah subhânahu wa ta'ala untuk kehidupan yang baik bagi anak-anaknya.
Orang tua setiap hari menanam. Menanam kebaikan, menanam riski. Bukan semata untuk mereka panen. Tapi, untuk dipanen dan dinikmati dzurriyah mereka. Mereka hanyalah mengambil haknya secukupnya.
Merekapun berharap sepeninggal mereka, anak-anaknya akan selalu mendoakan mereka, bisa memanfaatkan peninggalan mereka untuk kebaikan. Sehingga bisa menjadi jariyah bagi mereka.
Benarlah bila kemudian Allah subhânahu wa ta'ala memberikan petunjuk kepada hambaNya di saat usia sudah mencapai 40 tahun untuk berdoa sebagaimana di ayat berikut ini.
Allah Subhânahu Wa Ta'ala berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ اِحْسَا نًا ۗ حَمَلَـتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوْنَ شَهْرًا ۗ حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَا لَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَ صْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِ نِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim."" (QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)
Doa tersebut mencakup 4 perkara yaitu pertama, menjadi hamba yang bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya. Kedua, dapat berbuat kebajikan yang diridai Allah subhânahu wa ta'ala. Ketiga, memohon kebaikan yang bisa mengalir sampai ke anak cucu. Keempat, pengakuan bertobat kepada Allah subhânahu wa ta'ala dan pengakuan sebagai seorang muslim.
Perkara pertama, kedua dan ke-empat adalah permohonan untuk kebaikan pribadi hamba tersebut. Adapun perkara ketiga, adalah permohonan kebaikan untuk hamba tersebut hingga ke anak cucunya.
Jika demikian, apa yang dinikmati anak hingga kemudian turun temurun, ataupun kebaikan yang meniru kedua orang tua, bisa jadi bentuk pengabulan doa perkara ketiga tersebut. Yaitu memohon kebaikan yang mengalir hingga ke anak cucu.
Maka berbahagialah para orang tua yang memiliki anak saleh salehah, karena sebaik warisan itu bukan harta, tapi anak yang saleh salehah.
Dan semoga Allah subhânahu wa ta'ala menjadikan kita sebagai hamba yang saleh salehah, sehingga ketika menjadi anak, menjadi anak yang saleh salehah. Ketika menjadi orang tua, menjadi orang tua yang saleh salehah. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.
