Bahaya Moderasi Beragama
Ketiga, dalam kacamata moderasi, budaya di atas aqidah. Walaupun budaya itu mengandung syirik dan tahayul harus dilestarikan. Bagi yang tidak menghargai budaya disebut radikal. Entah ruginya negara dimana jika ada rakyat tidak mengambil budaya yang bertentangan dengan aqidah dan syariahNya? Padahal harusnya bersyukur ada rakyatnya yang taat syariah karena umara'pun mendapatkan limpahan pahala jika memfasilitasi ketaatan. Malah umara' mendapatkan dosa jika melestarikan kesyirikan atas nama budaya.
Keempat, komitmen kebangsaan dalam cara pandang moderasi adalah politik demokrasi. Politik demokrasi menjadikan manusia sebagai pembuat hukum dan melarang agama dijadikan pijakan bernegara. Tentu ketentuan ini menjadikan umat Islam meninggalkan hukum-hukum yang telah Allah SWT tetapkan. Baik hukum dibidang pemerintahan, ekonomi, politik, sosial, hankam dan lainnya.
Berikutnya, politik demokrasi mengusung liberalisasi, kapitalisasi diberbagai bidang. Dari ekonomi, kesehatan, sosial, pendidikan dan lainnya. Dan pengaturan yang demikian ini merugikan rakyat selain bertentangan dengan syariah.
Politik demokrasi juga menderaskan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan disektor ekonomi. Kesetaraan gender yang diingini demokrasi adalah setara disemua ranah. Padahal dalam Islam ada pengaturan yang tidak sama antara laki-laki dan perempuan. Seperti, ketentuan pemimpin negara, ketentuan waris, ketentuan safar, ketentuan bekerja, ketentuan aurat, ketentuan imam sholat dan lainnya.
Adapun pemberdayaan perempuan yang dimaui ala demokrasi ini adalah wanita bisa menjadi mesin penghasil uang. Sehingga kaum wanita yang tidak berpenghasilan distigma tidak berdaya tidak berguna. Sehingga mainstream para wanita memandang bekerja menjadi kewajiban bukan lagi mubah sebagaimana ketentuan dalam Islam.
Salah satu bahaya dari pandangan ini adalah tergesernya peran domestik perempuan dan lebih mengutamakan peran publik. Padahal peran domestik perempuan ini adalah yang wajib dalam pandangan syara'. Jebakan pemberdayaan perempuan ini bisa ditelikung dengan peningkatan pemahaman agama seorang muslimah. Dengan bekal agama kaum perempuan bisa menolak kekeliruan kaum genderis.
Inilah diantara bahaya moderasi, yang sebenarnya program ini deferinsial dari mengekornya umat Islam pada pemikiran non muslim.
Khatimah
Ibarat ikan yang habitatnya hidup di air tawar tapi dipaksa hidup di air laut maka tidak akan bisa bertahan hidup. Pun demikian pula dengan umat Islam saat ini. Banyak ide yang lahir dari non muslim yang diadopsi kaum muslimin. Cukupkan ayat ini menjadi alarm agar kita menerapkan Islam diseluruh aspek kehidupan.
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al Anbiya 21: Ayat 107).
Wallahua'lam bis showwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar