يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Rabu, 03 Juni 2026

Tangisan dan Tingkatan Kualitasnya

Orang menangis kadang disebut cengeng. Tidak demikian juga ya?! Karena air mata itu bisa mengalir dengan seizin Allah subhânahu wa ta'ala.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ

"dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis," (QS. An-Najm 53: Ayat 43)

Ada banyak kondisi yang menjadikan seseorang menangis. Adapun kita, seringnya menangis saat apa? Nah jawaban atas pertanyaan inilah yang kadang dijadikan alasan menyebut orang yang menangis itu cengeng.

Sekarang, mari kita ulas tangisan dari sisi yang berbeda, karena tangisan itu ada tingkatkan kualitasnya.

Kualitas tangisan ini ditentukan oleh apa? Ternyata, kualitas tangisan itu tidak ditentukan oleh kuantitas tangisannya. Seberapa sering menangis bin frekuensi tangisan tidak menentukan kualitas tangisan. Pun demikian pula volume tangisan. Andai sampai 1 liter air mata yang membasahi pipi maka banyaknya air mata ini tidak menjadi penentu kualitas tangisan.

Terus ditentukan oleh apa kualitas tangisan? Jawabannya, ditentukan oleh faktor penyebab tangisan.

Tingkatan Kualitas Tangisan

Pertama, tangisan yang menempati posisi tidak berkualitas. Tangisan tidak berkualitas adalah tangisan karena perkara haram. Menangisi sesuatu yang haram. Bukan menangisi karena telah melakukan keharaman, tetapi menangis karena tidak melakukan yang haram.

Contoh tangisan tidak berkualitas ini diantaranya; menangis bila gagal mencontek saat ulangan, menangis ketika gagal khalwat sama pacar, menangis ketika tidak miras, menangis bila tidak membully orang, menangis untuk mengelabuhi orang lain sebagaimana tangisan saudara-saudaranya Nabi Yusuf 'alaihissalam.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ عِشَآءً يَبۡكُونَ

"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis." (QS. Yusuf 12: Ayat 16)

Tangisan tidak berkualitas  ini nihil pahala, malah berdosa, sekaligus menjauhkan pelakunya dari ketaatan kepada Allah subhânahu wa ta'ala.  

Kedua, tangisan yang berkualitas rendah, yaitu menangis karena perkara mubah. Contoh tangisan berkualitas rendah adalah menangis karena tim sepak bola atau tim olah raga lainnya yang didukung kalah,  menangis karena rebutan HP atau mainan, menangis tidak diajak rekreasi, dan lainnya.

Tangisan kualitas rendah ini seperti tangisan anak-anak kecil. Sebagaimana penyebab tangisan karena perkara mubah, maka tangisan inipun tidak bernilai pahala. Hanya sekedar ungkapan perasaan seseorang saja.

Ketiga, tangisan yang berkualitas menengah, yaitu menangis karena perkara sunnah. Tangisan karena perkara sunnah ini menunjukkan keinginan seorang hamba untuk lebih mendekat kepada Allah subhânahu wa ta'ala, akan tetapi keinginannya untuk taqarub ilallah ini tertunda atau tidak terlaksana karena suatu hal, maka menangislah ia.

Diantara contoh tangisan berkualitas menengah ini adalah menangis ketika terlewat malamnya tanpa tahajud, menangis karena terhalang melaksanakan puasa sunnah, menangis karena batal bersedekah untuk kaum muslimin yang tertindas seperti di Palestina, menangis tidak bisa umroh, dan lainnya.

Tangisan ini berharga dihadapan Allah subhânahu wa ta'ala meski atas perkara sunnah. Ia termasuk tangisan yang baik (hasanah). Hanya hamba pilihan yang bisa sampai meneteskan air mata ketika terhalang melaksanakan yang sunnah. Mereka ini biasanya sudah bagus dalam ibadah wajibnya dan terus ingin taqarub ilallah melalui amalan sunnah.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ قُلۡتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ

"dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu," lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang)." (QS. At-Taubah 9: Ayat 92)

Tangisan kualitas menengah ini tidak sia-sia. Ada balasan kebaikan bagi pelakunya. Bukankah setiap kebaikan dibalas berlipat oleh Allah subhânahu wa ta'ala?

Allah subhânahu wa ta'ala berfirman;

...مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا

"Siapa yang berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. .." (QS. Al-An'am 6: Ayat 160)

Tangisan kualitas menengah selain tangisan karena terlewat mengerjakan yang sunnah adalah tangisan taubat. Mereka yang menyesal setelah berbuat dosa, apakah karena meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Tangisan ini bagian dari air mata taubat sehingga include dalam rangkaian taubat seseorang. Taubat diikuti dengan air mata penyesalan menjadi tanda taubatan nasuha (penyesalan yang dalam dan keinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi).

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّئَاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِي ٱللَّهُ ٱلنَّبِيَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٞ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."" (QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)

Keempat, tangisan berkualitas tinggi, yaitu tangisan atas perkara wajib. Menangis bukan karena meninggalkan yang wajib. Tetapi terhalangnya ia melakukan suatu kewajiban karena suatu hal. Jadi tidak ada niatan untuk tidak melakukan yang wajib.

Contoh tangisan ini seperti menangisnya kepala keluarga yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga karena kelemahannya, menangisnya anak yang belum berbakti kepada kedua orang tanya, seperti juga  tangisan Aisyah radiyallahu 'anha. Dari Aisyah radiyallahu 'anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah pernah masuk menemuinya ketika dalam keadaan menangis, maka beliaupun bertanya, "Apakah engkau sedang haid?" Aisyah menjawab, "Benar". Lalu Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ini merupakan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi kaum wanita. Untuk itu kerjakanlah apa yang yang dikerjakan oleh orang yang menunaikan haji, tetapi janganlah engkau thawaf sehingga kamu mandi" (HR. Muslim)

Menangisnya Aisyah radiyallahu  'anha dalam hadist tersebut karena ia tidak bisa mengerjakan perkara wajib -thawaf- karena haid. Aisyah radiyallahu 'anhai pun sedih dan menangis. Tangisan Aisyah radiyallahu 'anha ini ekspresi kesedihan karena kuatnya keinginannya melakukan thawaf untuk beribadah kepada Allah subhânahu wa ta'ala tetapi hal itu terhalang oleh haid.

Tangisan ini termasuk tangisan hasanah. Uzur syar'i  yang itu dibenarkan syara' bagi seseorang untuk tidak melakukan suatu ibadah tapi seseorang itu menangis. Air mata yang mengalir ini adalah tanda ketaatan dan kuatnya ghiroh (semangat) dalam beribadah kepada Allah subhânahu wa ta'ala.

Kelima, tangisan istimewa, tangisan ini kualitas tertinggi. Tangisan istimewa yaitu tangisan mereka yang tidak melakukan dosa, juga tidak meninggalkan yang wajib, akan tetapi tangisan karena khauf (takut kepada Allah subhânahu wa ta'ala), muraqabatullah (merasa diawasi Allah subhânahu wa ta'ala), raja' (harapan akan ampunan dan rahmat Allah subhânahu wa ta'ala).

Tangisan istimewa ini akan menjadi pembela di yaumul hisab. Pelakunya akan mendapatkan naungan dari Allah subhânahu wa ta'ala. Dalam sebuah hadistnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, " Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naunganNya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu ... seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah air mata istimewa yang hanya dimiliki oleh hati yang bersih, hati yang selamat, hati yang dekat dengan Allah subhânahu wa ta'ala.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنۡ هَدَيۡنَا وَٱجۡتَبَيۡنَآ ۚ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُ ٱلرَّحۡمَٰنِ خَرُّواْ سُجَّدًا وَبُكِيًّا

"Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya'qub), dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis." (QS. Maryam 19: Ayat 58)

Khatimah

Nah, mari kita koreksi tangisan-tangisan kita! Terkategori yang manakah? Tidak berkualitas, kualitas rendah, kualitas menengah, kualitas tinggi, atau kualitas istimewa?

Wallahua'lam bis shawwâb

Sabtu, 18 April 2026

Ada Perintah Ada Larangan, Manusia Punya Kemauan

Jika setiap keluar rumah harus menutup aurat, ada diantara muslimah yang merasa itu ribet, panas dan terasa berat. Hayo siapa yang merasa demikian?

Adapun kasus satunya lagi, ada yang ingin rutin menutup aurat. Tidak merasa ribet dan berat. Tapi ada tekanan yang bersifat melarang dari keluarga. Keluarga siapa ya ini?

Dua kasus ini, pada satu hal yang sama yaitu terkait menutup aurat. Dua individu dengan pandangan dan penerimaan yang berbeda atas perintah menutup aurat sebagaimana tersebut di hadist berikut ini:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Asma', jika seorang wanita telah menjalani haid, maka tidak diperbolehkan baginya dilihat kecuali ini dan ini. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya" (HR. Abu Daud)

Kenapa Bisa Berbeda?

Ada mungkin yang menjawab karena beda orang githu! Shalat yang wajib, kan juga ada yang ngerjain, ada yang tidak. Hadeh!

Kalau menurut penulis, wajarnya setiap muslim tidak ada beda pandangan dan penerimaannya atas suatu hal yang diwajibkan oleh Allah subhânahu wa ta'ala. Betul?

Kalau balik ke individu, memang manusia menciptakan dirinya sendiri? Trus maunya, semaunya gitukah?

Btw menutup aurat atau tidak, sama-sama ada balasannya loh!. Hayo pilih mana, dibalas surga karena menutup aurat atau neraka karena tidak menutup aurat?.

Oiya juga, Allah Subhânahu wa ta'ala yang menciptakan aurat, ngak mau loh aurat hambaNya terlihat saat menyembahNya. Iyakan? Sampai pada beli mukena aneka harga tuk menutupi aurat saat menyembahNya. Ups!

Bila Allah subhânahu wa ta'ala tidak mau disembah dalam kondisi hambaNya membuka aurat, itu artinya aurat itu suatu aib, cela yang itu harus ditutup. Nah tuh!

Dan memang betul secara bahasa arti 'aurat adalah anggota badan yang tidak baik dibukannya.

Alasan Mangkir Berhijab

Usut diusut, penulis menyimpulkan penyebab mangkir dari berhijab itu hanya satu faktor saja loh!. Apa itu?

Yaitu penempatan Allah subhânahu wa ta'ala pada diri seseorang. Maksudnya?

Begini gaes, jika Allah subhânahu wa ta'ala diposisikan di atas diri kita maka kita akan mudah menerima dan melaksanakan perintah Allah subhânahu wa ta'ala. Taat begitu jadinya. Asyik!

Sebaliknya, jika diri kita diposisikan di atas Allah  subhânahu wa ta'ala maka akan sulit menerima dan melaksanakan perintah Allah subhânahu wa ta'ala. Berani melawan Allah subhânahu wa ta'ala. Kabur!

Memang Bukan Hal Mudah

Kuasa Allah subhânahu wa ta'ala yang menciptakan manusia lengkap dengan akal, hati, nafsu sehingga manusia memiliki keinginan dan kemauan. Disinilah manusia diuji. Keinginan dan kemauan dirinya dimenangkan atas perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala atau ia sesuaikan dengan perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala.

Gaes, memang untuk sampai pada kondisi keinginan dan kemauan sesuai perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala bukan hal yang mudah. Membutuhkan proses tanpa ada batas waktu. Butuh perjuangan.

 Pertama, berproses dan berjuang nge-on kan akal dan hati hingga sadar akan hakikat diri sebagai hamba dari Allah subhânahu wa ta'ala. Hingga rida dengan Allah subhânahu wa ta'ala. Jreng-jreng! Bagaimana sanggup tuk ni gaes?

Kedua, Membutuhkan perjuangan tuk berdoa kepada Allah subhânahu wa ta'ala agar dijadikan keinginan dan kemauan suitable dengan perintah dan larangan Allah subhânahu wa ta'ala.

Gaes, bila fakta menunjukkan banyak orang salih yang mampu menggapai itu semua. Bagaimana dengan kita? Harus bisa ya!

Ditutup Dengan Apa Aurat?

Pastinya tidak akan mau menutup aurat dengan goni, karung ataupun kerdus. Hehe. Pakai kainlah gaes. Tapi jangan asal kain. Bisa kena delik hukum di hadist berikut ini;

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya, yaitu suatu kaum yang bersamanya cambuk seperti ekor sapi yang digunakannya untuk mencambuk orang-orang, dan wanita-wanita berpakaian tetapi telanjang, genit, kepalanya seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga, tidak juga mencium bau surga, sesungguhnya surga tercium dari jarak ini dan itu" (HR. Muslim)

Nah tuh, bisa kena hukuman ngak mencium bau surga bila baju penutup auratnya nerawang atau membentuk lekuk-lekuk tubuh. Trus kira-kira itu apa nama kain penutupnya? Itu diterangkan di ayat berikut ini gaes.

Pertama, kerudung (khimar) sebagai penutup kepala hingga dada.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا ۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur 24: Ayat 31)

Kedua, pakai jilbab. Jilbab diterangkan di ayat berikut ini. Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59)

Jadi gaes, bila keluar rumah berhijab yang lengkap ya, kerudung dan jilbab.  Hijabnya tidak nerawang, tidak membentuk lekuk tubuh, menutupi seluruh aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Gimana mudahkan? Semoga Allah subhânahu wa ta'ala mudahkan bagi kita dalam mengamalkannya. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.

Wallahua'lam bis shawâb.

Selasa, 24 Maret 2026

Langsung Santap dan Kelewat Kenyang, Kelirunya Dimana?

Syawwal bila dilihat dari sisi bahasa maknanya bulan peningkatan. Nah, pertanyaannya, hingga di hari ini, apa yang meningkat dari diri kita?

Satu yang pasti meningkat dan itu hampir dialami oleh semua muslimin adalah peningkatan frekuensi makannya. Hehe. Betul apa tidak?

Ramadan mengajarkan siang tidak makan dan minum. Bagaimana dengan siang di Syawwal ini? Hem, kunjung sana sini aneka snack tersaji hingga suguhan olahan makananpun gratis disantap bareng-bareng. Aneka minumanpun tak terlewat mendampinginya.

Perilaku Konsumsi yang Keliru dan Pengaruhnya

Setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi, pasti mengandung gizi tertentu. Gizi? Walah, tidak berfikir sampai situ. Berdoa? Semangat memakannya melupakan berdoa dulu. Langsung santap aja. Sergap! 

Nah, coba kita merenung sebentar saja. Coba dirasa-rasa bagaimana suasana keimanan kita, suasanan kedekatan hati kita dengan Allah subhânahu wa ta'ala, dan perilaku nafsu kita? Bandingkan semua itu dengan saat kita berpuasa di bulan Ramadan dengan saat di bulan Syawwal ini.

Memang sih, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keimanan, kedekatan hati dengan Allah subhânahu wa ta'ala, dan perilaku nafsu. Tapi, sadarkah kita, ternyata oh ternyata, makanan dan minuman yang kita konsumsi memiliki pengaruh pada keimanan, kedekatan kepada Allah subhânahu wa ta'ala dan perilaku nafsu. Oiyakah?

Keimanan sebagai pangkal dari ketaatan, bisa melemah dengan perilaku konsumsi yang keliru. Demikian pula rasa kedekatan kita kepada Allah subhânahu wa ta'ala. Sebaliknya, nafsu dengan perilaku konsumsi yang keliru malah mengalami peningkatan. Waduh!

Perilaku konsumsi yang keliru disini, penulis batasi pada dua aspek saja dengan objek konsumsi dianggap halal semuanya.  

Pertama, melewatkan berdoa. Seminimal berdoa adalah membaca basmallah sebelum makan atau minum dan hamdalah sesudahnya. Dalam hadistnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; "Tiap-tiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan membaca basmallah maka pekerjaan tersebut kurang berkah" (HR. Abu Daud)

Dari Umar bin Abi Salamah radiyallahu 'anhu, dia menceritakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bacalah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang didekatmu" (HR. Mutafaqun 'alaihi)

Dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu, dia menceritakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian minum dengan satu nafas seperti minumnya keledai, tetapi minumlah dua atau tiga kali, dan bacalah bismillah jika kalian hendak minum, dan alhamdulillah jika telah selesai melakukannya" (HR. Tirmidzi)

Dalam hadist lain riwayat dari Jabir bin Abdullah radiyallahu 'anhu, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seseorang menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya dan ketika hendak makan, maka setan berkata, 'kalian (bangsa setan) tidak bisa menginap dan tidak bisa makan!'. Jika seseorang tidak menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya maka setan berkata, 'Kalian bisa masuk dan bisa menginap'. Jika seseorang tidak menyebut nama Allah sewaktu hendak makan, maka setan berkata, 'Kalian bisa menginap dan makan malam'. (HR. Muslim)

Nah, itulah diantara hadist terkait makan dan minum. Ternyata, keberkahan atas makanan dan minuman adalah jika berdoa sebelum mengkonsumsinya!. Keberkahan inilah yang memberikan pengaruh terhadap stabilitas iman, kekuatan kesadaran dan perasaan akan kedekatan kepada Allah subhânahu wa ta'ala, baik itu berupa kesadaran akan pengawasanNya dan perasaan dekat dengan Allah subhânahu wa ta'ala. Sebaliknya, keberkahan ini menjadikan nafsu su' ( nafsu yang buruk) melemah.

Oh, ternyata membaca basmallah (بسم الله atau بسم الله الرحمن الرحيم) mendatangkan keberkahan. Jadi tahu deh!

Sebaliknya, melewatkan berdoa, melewatkan membaca basmallah, menjadi jalan setan untuk ikut masuk ke dalam makanan atau minuman yang kita konsumsi. Dan bila setan bisa ikut masuk, maka tidak ada pengaruh ma'ruf atas kehadirannya. Ia akan memberikan efek negatif berupa melemahkan keimanan, berujung pada kendurnya ketaatan, malas ibadah, dan perasaan dekat dengan Allah subhânahu wa ta'ala menurun sehingga berkurang kesadarannya akan pengawasanNya. 

Sebaliknya, nafsu buruk bisa naik level. Wujudnya bisa berupa lisan, mata, telinga, hati, akal yang tidak terjaga. Terus bagaimana?

Bila sekarang sudah mengetahui bahwa tidak berdoa sebelum makan dan minum itu perilaku konsumi yang keliru, maka hayuk ditinggalkan!

Kedua, berlebihan dalam makan dan minum. Baik frekuensinya maupun kuantitasnya. Frekuensi yang sedikit-dikit makan akan mengambil banyak menit untuk makan. Bila dikumpulin menit itu bisa mengambil waktu beberapa jam dalam sehari. Terlebih jika makannya sambil ngobrol. Tambah tak putus-putus makannya! Cie!

Padahal oh padahal, tanpa kita sadari, makan telah mencuri banyak waktu yang kita miliki. Bisa jadi, ada aktivitas yang lebih berfaedah untuk mengisi waktu tersebut selain nyantap jajanan lebaran sambil ngerumpi. Iya juga ya! Mikir!?!

Berikutnya berlebih kuantitasnya. Makan melewati batas kenyang. Kenyang menyedot banyak oksigen ke area pencernaan. Hal ini bisa menjadikan seseorang terserang kantuk. Apabila sudah mengantuk, pengennya tidur saja, kadang lupa atau jadi enggan salat bila belum salat, malas membaca Al Quran bila belum membacanya.

Perilaku berlebihan dalam makan dan minum ini tidak sesuai dengan petunjuk Allah subhânahu wa ta'ala. Kaum muslimin diperintahkan untuk meninggalkannya. Allah subhânahu wa ta'ala juga tidak menyenanginya.

Allah subhânahu wa ta'ala berfirman;

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 31)

Tidak ada suatu hal yang dibenci Allah subhânahu wa ta'ala kecuali itu pun buruk bagi manusia. Tidak ada sesuatu yang dilarang Allah subhânahu wa ta'ala kecuali itupun tidak baik bagi manusia. Dan faktanya memang demikian. Berlebihan dalam makan dan minum memberikan efek negatif bagi pengkomsumsinya.

Ikut mengingatkan al Faruq, Umar bin Khattab radiyallahu 'anhu, Ia berkata, "Wahai sekalian manusia, janganlah kalian memenuhi perut kalian, karena dengannya kalian akan malas menegakkan salat, juga merusak hati kalian, dan akan menimbulkan penyakit". Tuh kan!

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ikut mengkhawatirkan jika umatnya berlebihan dalam makan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bejana terburuk yang di-isi oleh anak Adam adalah perutnya sendiri. Cukuplah baginya suapan-suapan untuk menegakkan badannya. Jika tidak bisa, maka jadikan sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernafas" (HR. Tirmidzi, an Nasai, dan Ahmad).

Ternyata bukan makan lagi, lagi dan lagi! Kabur!!!!!! Yup, ditinggalkan perilaku mengkonsumsi hingga kelewat kenyang. Secukupnya dan pandai-pandai membagi waktu, sehingga tidak habis waktu di depan rodong jajan, toples snack, blek roti. Haha.

Khatimah

Dua perilaku konsumsi yang keliru yaitu melewatkan berdoa dan berlebih dalam makan dan minum bukanlah perilaku yang diajarkan oleh kitabullah dan sunnah nabi. Dan ternyata, tidak ajarkan demikian itu karena dua perilaku tersebut memberikan efek negatif yang signifikan atas keimanan kita, kedekatan kita kepada Allah subhânahu wa ta'ala dan perilaku nafsu. Wallahua'lam bis shawâb.



Rabu, 18 Februari 2026

Satu Ramadhân

Bukan yang pertama kali terjadi perbedaan. Tapi tetap menarik dibahas. Itulah perbedaan penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal, 1 Dzulhijjah.

Contohnya 1 Ramadhan 1447 H tahun ini, pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadhan pada 19 Februari 2026. Setelah pantauan hilal tidak mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Adapun diantara ormas yang penetapannya berbeda dengan pemerintah adalah Muhammadiyah dengan hisab globalnya menetapkan 1 Ramadhan pada 18 Februari 2026.

Di luar Indonesia, juga berbeda-beda. Arab Saudi, UEA, Yaman, Palestina, Bahrain, Irak, Lebanon, Qatar, Kuwait dan lainnya mengumumkan hilal 1 Ramadhan telah nampak sehingga 1 Ramadhan pada 18 Februari 2026.

Adapun beberapa negara Asia seperti Singapura, Azarbeijan, Kazaktan, Kirkistan, Uzbekistan dan lainnya mengenapkan Sya'ban, setelah pantauan hilal 1 Ramadhan tidak nampak.

Harapan kaum muslimin tentunya 1 Ramadhan yang sama, meski berbeda-beda negaranya. Sebagaimana bulan yang hanya 1, dan indahnya bila seluruh kaum muslimin bersama dalam 1 Ramadhan, 1  Syawal, 1 Dzulhijjah.

Yang Mengharukan

Ada kalimat yang mengharukan disetiap selesai pengumuman hilal dari pemerintah Indonesia. Sepengetahuan penulis, selalu dan selalu Menag sebagai perwakilan pemerintah di negeri ini, tidak melarang mereka yang mengambil pendapat sesuai keyakinannya meskipun berbeda dengan yang ditetapkan pemerintah.

Satu sisi pernyataan itu melegakan yang berbeda. Karena mendapatkan izin dari pemerintah. Pada akhirnya tidak ada yang tidak mentaati pemerintah. Inilah yang mengharukan itu.

Satu sisi yang lain, juga membahagiakan pemerintah. Dengan kelapangannya dan kelapangan yang berbeda, semoga limpahan pahala terlimpah dan membawa negeri ini pada petunjuk dan rahmat Allah subhânahu wa ta'ala. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.

Renungan Bagi Ulama

Para ulama adalah teladan bagi kami yang lemah ilmu. Bukan hanya ulama di negeri ini. Tapi ulama di semua negeri kaum muslimin.

Para ulama mengerti kenapa terjadi perbedaan. Adapun kami yang lemah ilmu hanya mengikuti.

Ulama pula yang memegang amanah penyelamat umara dan umat dari kekeliruan. Maka besar tanggungjawab ulama atas umara dan umat ini. Persatuan ulama salah satu kunci penyelamatnya. Bila ulama terpecah, bagaimana dengan kami yang lemah ilmu.

Akhirnya, teriring doa semoga ulama di semua negeri kaum muslimin dapat bersatu dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang dialami kaum muslimin. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.


Selasa, 03 Februari 2026

Setan, Dukun dan Sihir

Era memang telah digital. Tapi setan dan iblis tidak membutuhkan teknologi untuk menggait kawan ke neraka. Diantara yang disesatkan itu adalah para dukun, pesihir dan yang memanfaatkan jasa mereka.

Dosa Pesihir dan Dukun

Dukun dan pesihir adalah musuh Allah subhânahu wa ta'ala. Mereka menjadikan musuh-musuh Allah subhânahu wa ta'ala dari kalangan setan dan iblis sebagai kawannya, penolongnya. Setan dan iblis telah dikutuk oleh Allah subhânahu wa ta'ala. Setan dan iblis adalah kafir. Dan di akhirat tempat mereka adalah di neraka beserta para pengikutnya.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

قَا لَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُوْمًا مَّدْحُوْرًا ۗ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَاَ مْلَــٴَــنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ اَجْمَعِيْنَ

"(Allah) berfirman, "Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barang siapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua.""(QS. Al-A'raf 7: Ayat 18)

Aktivitas para dukun atau pesihir diantaranya meliputi dosa berikut ini;

Pertama, syirik (menyekutukan Allah subhânahu wa ta'ala). Seorang muslim haram menjadikan setan dan iblis sebagai pembantunya, penolongnya, pelindungnya, dan kawannya.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

 وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ...

"... dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Jika mengambil setan sebagai kawan, pembantu, penolong maka telah menyekutukan Allah subhânahu wa ta'ala (syirik). Dan syirik adalah dosa besar. Allah subhânahu wa ta'ala berfirman;

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 48)

Kedua, menyakiti, menyiksa dan zalim pada orang yang menjadi sasaran sihirnya. Dan jika yang disihir adalah tetangganya sendiri, maka menyakiti tetangga dosanya berlipat-lipat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan baginya daripada berzina dengan istri tetangga. Dan sungguh laki-laki mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri dari rumah tetangganya" (HR. Bukhari)

Sihir itu menyiksa dan menyakiti orang yang disihir. Dan perbuatan ini adalah kezaliman atas muslim lainnya. Diriwayatkan dari Urwah Ibnu Zubair radiyallahu 'anhu bahwa Hisyam bin Hakim bin Hizam radiyallahu 'anhu berkata bahwa ia melewati beberapa orang di Syam yang sedang dijemur di bawah terik matahari, sedang kepala mereka dituangi minyak. Ia berkata, "Ada apa ini?". Dijawab "Mereka disika karena masalah pajak". Hisyam berkata, "Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia" (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Hindarilah kezaliman karena kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat..." (HR. Muslim)

Ketiga, kezaliman yang dilakukan pesihir atau dukun tidak hanya atas orang yang dia sihir, tapi juga atas dirinya sendiri. Ia menzalimi dirinya dan aniaya pada dirinya dengan memanfaatkan apa yang ada pada dirinya untuk menyekutukan Allah subhânahu wa ta'ala dan menyakiti orang lain.

Meridai Perdukunan dan Sihir

Meridai perdukunan dan sihir yang dilakukan orang lain bisa meliputi dua bentuk.

Pertama, memanfaatkan jasa dukun dan pesihir tersebut. Dan atas orang-orang yang bekerjasama dengan pesihir atau dukun berarti bekerjasama dalam dosa. Bedanya, jika para dukun dan pesihir itu menyekutukan Allah subhânahu wa ta'ala dengan setan dan iblis. Adapun pengguna jasa dukun atau pesihir menyekutukan Allah subhânahu wa ta'ala dengan dukun atau pesihir.  Keduanya sama-sama melakukan dosa besar.

Kedua, tidak memanfaatkan jasa dukun atau pesihir tetapi membiarkan mereka melakukan aktivitas perdukunan atau sihir. Maka hal ini sama dengan membiarkan kemungkaran atau kemaksiatan terus terjadi. Dan inipun juga bertentangan dengan hadist Nabi shallallahu 'alihi wa sallam untuk mencegah kemungkaran.

Kelompok pertama ataupun kedua, jika mempercayai atau membenarkan berita yang dibawa dukun atau pesihir maka terkena hadist berikut ini.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang mendatangi tukang dukun, kemudian bertanya akan sesuatu, kemudian membenarkannya dengan apa yang dikatakan dukun itu, maka tidak diterima sholatnya 40 hari" (HR. Muslim)

Bila Ada Penyihir

Hukum asal melihat kemungkaran seperti aktivitas perdukunan dan sihir adalah langsung dicegah.  Setiap muslim yang mengetahui harus langsung nahi munkar.

Tersebut dalam hadist arbain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapapun yang melihat kemungkaran hendaklah merubah dengan tangannya, bila tidak mampu maka hendaklah merubah dengan lisannya dan bila tidak mampu maka hendaknya merubah dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman" (HR. Muslim)

Dalam kitab Al Irsyad ila shahihil i'tiqad karya Syaikh Saleh bin Fauzan, bahwasannya pemerintah wajib menyuruh para pesihir itu bertaubat. Jika bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak bertaubat maka bunuhlah mereka. Agar menenangkan (menyelamatkan) kaum muslimin dari keburukan dan kejahatan yang mereka perbuat dan untuk menerapkan hukum Allah subhânahu wa ta'ala.

Ketika pemerintah hingga harus turun tangan membasmi, itu menunjukkan besarnya dosanya dukun atau pesihir. Berarti pula mulai dari ketua RT, RW juga harus menghentikan aksi perdukunannya.

Hukuman Bagi Dukun Atau Pesihir

Perkara syirik dan kezaliman yang dilakukan dukun atau pesihir adalah perkara besar. Maka hukuman bagi merekapun juga berat.

Dari Bijahalah bin Ubadah, berkata Umar bin Khattab, "Bunuhlah semua penyihir laki-laki dan perempuan" (Shahih Bukhari)

Dari Jundub diriwayatkan secara marfu', "Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal lehernya dengan pedang" (HR Tirmidzi)

Bila hukuman di dunia bagi para dukun atau penyihir sedemikian itu, bagaimana hukuman di akhirat nanti bila pelakunya di dunia tidak dijatuhi hukuman tersebut? Bukannya semakin berat? Dan bagaimana pula jika tidak mendapatkan maaf dari orang yang disihir?

Menantang hukuman yang tidak dapat dibayangkan dunia akhirat, itulah penyihir, dukun dan juga orang-orang yang memanfaatkan jasa mereka. Maka segeralah bertaubat.

Allah Subhânahu wa ta'ala berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ ۚ حَتّٰۤى اِذَا حَضَرَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَا لَ اِنِّيْ تُبْتُ الْــئٰنَ وَلَا الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّا رٌ ۗ اُولٰٓئِكَ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَا بًا اَ لِيْمًا

"Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertobat sekarang." Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal, sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 18)

Wallahua'lam bis shawâb

Minggu, 25 Januari 2026

Lelah Mereka, Untuk Kamu!

Siapa yang masih memiliki orang tua, cobalah bertanya kepada mereka. Tanyakan, "Untuk siapa kekayaan yang bapak dan ibu miliki?"

Pertanyaan tersebut bisa dijawab berbeda dari setiap orang tua. Tapi, satu jawaban yang hampir bisa dipastikan ada, kedua orang tua itu akan menjawab untuk anak-anak mereka.

Jerih payah, peluh keringat, lelah tidak dirasa oleh kedua orang tua. Mereka ingin melihat keturunannya saleh salehah dan mapan.

Dalam pikiran dan qalbun mereka, tersimpan semua nama anak-anaknya. Dipikirkan, didoakan, dibanggakan, penuh harap kepada Allah subhânahu wa ta'ala untuk kehidupan yang baik bagi anak-anaknya.

Orang tua setiap hari menanam. Menanam kebaikan, menanam riski. Bukan semata untuk mereka panen. Tapi, untuk dipanen dan dinikmati dzurriyah mereka. Mereka hanyalah mengambil haknya secukupnya. 

Merekapun berharap sepeninggal mereka, anak-anaknya akan selalu mendoakan mereka, bisa memanfaatkan peninggalan mereka untuk kebaikan. Sehingga bisa menjadi jariyah bagi mereka.

Benarlah bila kemudian Allah subhânahu wa ta'ala memberikan petunjuk kepada hambaNya di saat usia sudah mencapai 40 tahun untuk berdoa sebagaimana di ayat berikut ini.

Allah Subhânahu Wa Ta'ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ اِحْسَا نًا ۗ حَمَلَـتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوْنَ شَهْرًا ۗ حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَا لَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَ صْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِ نِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim."" (QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)

Doa tersebut mencakup 4 perkara yaitu pertama, menjadi hamba yang bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya.  Kedua, dapat berbuat kebajikan yang diridai Allah subhânahu wa ta'ala. Ketiga, memohon kebaikan yang bisa mengalir sampai ke anak cucu. Keempat, pengakuan bertobat kepada Allah subhânahu wa ta'ala dan pengakuan sebagai seorang muslim.

Perkara pertama, kedua dan ke-empat adalah permohonan untuk kebaikan pribadi hamba tersebut. Adapun perkara ketiga, adalah permohonan kebaikan untuk hamba tersebut hingga ke anak cucunya.

Jika demikian, apa yang dinikmati anak hingga kemudian turun temurun, ataupun kebaikan yang meniru kedua orang tua, bisa jadi bentuk pengabulan doa perkara ketiga tersebut.  Yaitu memohon kebaikan yang mengalir hingga ke anak cucu.

Maka berbahagialah para orang tua yang memiliki anak saleh salehah, karena sebaik warisan itu bukan harta, tapi anak yang saleh salehah. 

Dan semoga Allah subhânahu wa ta'ala menjadikan kita sebagai hamba yang saleh salehah, sehingga ketika menjadi anak, menjadi anak yang saleh salehah. Ketika menjadi orang tua, menjadi orang tua yang saleh salehah. Âmîn yâ rabbal'âlamîn

Selasa, 09 Desember 2025

Angkapun Punya Teman, Iyakah?

Berteman atau bersosialisasi dengan manusia lainnya itu sudah fitrah. Siapapun ia, pasti berinteraksi dengan lainnya. Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, juga telah memfasilitasi umatnya untuk berteman. Diantara ayat yang memerintahkan untuk saling mengenal adalah sebagai berikut;

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ 

“ Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dari ayat di atas, kita jadi tahu, bahwa Allah subhānahu wa ta’ala memerintahkan hambaNya untuk saling mengenal. Dari saling kenal kemudian berteman dan bersaudara.

Pertemanan Angka 1 dan 9

Pertemanan angka 1 dan 9 disini maksudnya, keberadaan angka 9 jika dikolaburasikan dengan angka 0 sampai 10, itu bisa menghasilkan angka 1. Dari situ diambil hikmah bahwa angka 9 ini berteman baik dengan angka 1. Dan angka 9 juga berteman baik dengan angka-angka lainya.

Berikut bukti pertemanan angka 9 dengan angka 1 sampai 10 yang dikutip dari bukunya Abah Salma Alif Sampayya. 

0 x 9 + 1 = 1

1 x 9 + 2 = 11

12 x 9 + 3 = 111

123 x 9 + 4 = 1.111

1.234 x 9 + 5 = 11.111

12.345 x 9 + 6 = 111.111

123.456 x 9 + 7 = 1.111.111

1.234.567 x 9 + 8 =  11.111.111

12.345.678 x 9 + 9 = 111.111.111

123.456.789 x 9 + 10= 1.111.111.111

Jadi, bila angka bisa berteman baik bahkan se-setia itu, maka benarlah hadist Rasulullah ﷺ terkait pesan beliau kepada umatnya. Dari Nu’man bin Basyir radiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang yang beriman yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota menderita sakit, maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan merasa demam” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, semoga tulisan singkat ini menginspirasi untuk kemudian berbuat baik pada sesama. Jangan saling mencela, jangan saling menyakiti, tapi bersaudara dan bergaul dengan baik dengan lainnya. Wallahua’lam bis shawāb. 

 

Selasa, 21 Oktober 2025

Versi Penyajian Kisah dalam Al-Quran

Al-Quran sebagai kalamullah, diantaranya berisi kabar atau kisah dari masa Nabi Adam 'alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Penyebutan kisah tersebut apabila ditelaah dari sudut penamaan surah dan nama aktor dalam kisah tersebut ditemukan beberapa versi.

Versi satu, kisah diceritakan di seluruh ayat pada satu surah, tidak dikisahkan di surah lainnya dan aktor di kisah itu menjadi nama surah. Contohnya kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam ada di surah Yusuf saja.

Versi dua, kisah diceritakan dalam seluruh ayat di satu surah dan kisahnya juga disebutkan di surah lainnya dan aktor juga menjadi nama surah. Contohnya adalah kisah Nabi Nuh 'alaihissalam. Surah Nuh keseluruhan ayatnya berkisah Nabi Nuh 'alaihissalam, dan disebutkan juga kisahnya di surah lainnya, seperti di surah Al-Mukminun, Asy-Syu'ara dan lainnya.

Versi tiga, kisah diceritakan di beberapa ayat saja di satu surah dan aktor tidak menjadi nama surah tersebut. Contohnya kisah ratu Balqis pada surah An-Naml.

Versi empat, kisah diceritakan di beberapa ayat saja di satu surah dan aktor menjadi nama surah tersebut. Contohnya kisah Luqman hanya ada di beberapa ayat di surah Luqman.

Versi lima, kisah diceritakan di beberapa ayat saja di satu surah, dan tempat para aktor tersebut menjadi nama surah. Contohnya kisah para penghuni goa (Al Kahfi) dalam surah Al-Kahfi.

Versi enam, kisah diceritakan dalam  beberapa ayat saja di beberapa surah dengan topik cerita yang sama dan aktor tidak menjadi nama surah dalam Al-Quran. Contohnya adalah kisah Nabi Adam 'alaihissalam dan setan. Kisah ini diceritakan di surah Al Baqarah, Al-A'raf, Al-Isra'.

Versi tujuh, kisah diceritakan di beberapa ayat saja di beberapa surah yang berbeda dan aktor di kisah itu menjadi nama di salah satu surah dimana aktor diceritakan. Contohnya kisah nabi Ibrahim 'alaihissalam, dikisahkan di beberapa surah, diantaranya surah Al-Baqarah, surah Al-An'am, surah Ibrahim, surah Al-Anbiya dan lain-lain. Dan Ibrahim menjadi nama surah ke-14 yaitu surah Ibrahim.

Versi delapan, kisah diceritakan di beberapa ayat saja di beberapa surah yang berbeda dan aktor tidak menjadi nama surah Al-Quran. Contohnya kisah nabi Sulaiman 'alaihissalam terdapat di beberapa surah diantaranya surah An-Naml, surah Al-Anbiya, surah Saba dan lainnya. Dan tidak ada dalam Al-Quran surah Sulaiman.

Versi sembilan, kisah menceritakan anggota keluarganya aktor sedang aktor yang menjadi nama surah tidak ada kisahnya. Contohnya adalah kisah keluarga Imran  menceritakan Hannah (istrinya Imran) dan Maryam (anaknya Imran) dalam surah Ali Imran.

Versi sepuluh, aktor menjadi nama surah dimana di surah tersebut tidak ada kisah terkait aktor tersebut, tetapi kisahnya diceritakan di surah-surah lainnya. Contohnya adalah surah Muhammad. Di surah ini tidak tersebut kisah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tapi di surah lainnya tersebut kisah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Inilah diantara versi penyajian kisah dalam Al-Quran yang penulis temukan dilihat dari sudut penamaan surah dan nama aktor dalam kisah tersebut. Adapun apabila ada versi lain atau ada koreksi, boleh disampaikan. Wallahua'lam bis shawâb.

Senin, 06 Oktober 2025

Taman Pendidikan Alquran dan Madin Dikala Hujan

TPA/Q dan Madin Dikala Hujan
 Diantara sekolah   non formal.

 Taman   pendidikan   Alquran.

 Ada yang   menyebutnya   TPQ.

 Ada juga yang menyebutnya TPA.

Adapun Madin ialah Madrasah Diniyah.


Variatif kelembagaan mereka melekat.

Ada yang melekat pada lembaga formal.

Seperti melekat pada pesantren.

Melekat pada madrasah ibtidaiyah.

Dan ada yang berdiri tanpa lekatan.


Bisa tidak ada beda, hujan dan terik.

Itu bila melekat pada lembaga formal.

Wajah yang berbeda.

Tuk TPA/TPQ dan Madin tanpa lekatan.

"Kok bisa?"


Hujan.

Tetesan air dari langit.

Meredam ghiroh (semangat).

Meredam kekuatan kaki murid.

"Iyakah?"


Bukan memotivasi.

Hujanpun jadi alasan orang tua.

Mendukung anaknya.

Di rumah saja.

"Piyê toh?"


Inilah fakta.

Beda di hati antara sekolah formal dan non formal.


Sekolah formal.

Hujan deras bukan alasan absen.

Semangat berangkat.

Orang tuapun tancap gas.

"Betul"


Bila demikian bagaimana?


Belajar agama.

Dari iqro' hingga ilmu quran.

Dari huruf hijaiyah hingga kitab tanpa harokat.

Dari ilmu aqidah, hadist, fiqih, tarikh, bahasa arab.

Bukanlah ilmu non formal.


Semua itu ilmu syar'i.

Wajib dipelajari.

Memahaminya, menghindarkan diri dari kesalahan.

Memahaminya, menyelamatkan dunia dan akhirat.

Memahaminya, jalan mendekat pada Allah subhânahu wa ta'ala dan RasulNya.

"Jadi sadar"

Alhamdulillâh.

Minggu, 28 September 2025

Antara Kaumnya Nabi Musa, Sahabatnya Nabi Muhammad dan Kita

Baitul maqdis ditetapkan atas kaumnya Nabi Musa 'alaihissalam.

Allah subhanahu wa ta'ala yang menetapkan.

Telah hidup di dalamnya kaum Jabbar.

Dua belas dari mereka dikirim sebagai utusan.

Tertangkap semua oleh seorang Jabbar.


Dipulangkan, tidak dibunuh.

Sepuluh memprovokasi Bani Israil untuk tidak berjihad.

Kaum Jabbar yang mereka sangat takut padanya.

Kejam, bengis, besar, laksana raksasa.


Dua yang bertakwa berkata.

Perangilah lewat pintu gerbang.

Kemenangan akan diraih.

Selamanya kami tidak akan memasukinya, jawab Bani Israel.


Kata mereka,

Pergilah Musa bersama Rabbmu untuk berjihad.

Adapun kami pilih duduk menunggu.

Akhirnya, gurun tyan menjadi tempat tinggal mereka.

Balasan atas penentangan mereka pada Nabinya.


Empat puluh tahun di gurun tandus, kering berkekurangan.

Berputar di bumi tak tahu jalan keluar.

Tiga ratus nabi diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud telah mereka bunuh.

Nabi Musa 'alaihissalam pun dibuat repot oleh mereka.


Banyak menyanggal, banyak meminta, tidak puas, bersegera dalam dosa, sering melanggar syariat yang ditetapkan atas mereka, membiarkan kemungkaran diantara mereka.

Sungguh, menjengkelkan karakter mereka.


Dan bandingkan dengan sahabat Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam.

Merekalah sebaik-baik pengikut.

Merekalah sebaik-baik sahabat.

Merekalah sebaik-baik pembela Nabi.


Mendengar dan taat.

Itulah mereka.

Baik atas firman Tuhannya ataupun sabda Nabinya.

Pembelaan atas Nabinya melebihi pembelaan atas diri dan keluarganya.

Hormatnya pada Nabi mereka bukan dengan sujud dan ruku di depannya.

Tapi dengan pembenaran, ketaatan dan pemuliaan.


Mereka selalu siap atas seruan jihad.

Berperang bersama Nabinya.

Tidak meminta kepada Nabinya ini dan itu.

Walau dalam kondisi kehausan, kepayahan dan kelaparan melawan musuh.


Sholat dan berdoa.

Mengadukan dan memohon atas apa yang mereka alami dan butuhkan.

Disampingnya, Nabi yang mulia membersamai mereka.

Malaikat penolongpun turun dari atap tak bertiang.

Air tercurah dari langit.

Kemenangan demi kemenangan.


Sahabiah Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam tidak berbeda.

Mereka yakin sepenuhnya.

Membenarkan Nabinya.

Apa sabdanya ditaati.

Setiap ayat yang turun diimaninya.


Bersama para sahabat ikut berjihad.

Mengobarkan semangat jihad.

Merelakan keluarganya syahid.

Kata mereka, mulia syahid di jalanNya.

Malu, bila sembunyi sedang Nabinya berjihad.

Wanita-wanita yang Islam menjasad dalam dirinya.


Sahabat sahabiah Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam.

Mereka hidup, melihat dan membersamai Nabinya.

Mukjizat ditatap mata.

Akhlaq mulia menjadi suguhan.

Akal dan hati yang lurus pada mereka.

Tunduk, beriman.


Kemudian, kita?

Umat di akhir masa.

Seperti apa?

Pada diri masing-masing jawabannya!

Wallâhua'lam bis shawâb.

Sabtu, 16 Agustus 2025

Berpikir Tentang Tuhan

Bila manusia tercipta punya hati, dan hati tempatnya perasaan, maka manusia bisa menilai, ketika lantainya kotor, ia akan mengatakan kotor. Ketika melihat jalanan yang bersih dari sampah, ia akan memujinya. Bersih, indah, nyaman dipandang. Inilah ungkapan hati, ungkapan perasaan. Setiap yang punya hati, ia pasti berkata demikian. Baik dia mengakui adanya Tuhan ataupun tidak. 

Itulah namanya bawaan. Melekat pada diri manusia. Andai, manusia berkenan melanjutkan dengan perenungan. Mengajak akalnya untuk berpikir, berpikir, siapa yang menghadirkan perasaan bawaan yang demikian itu pada dirinya?

Tidaklah perasaan itu dapat di-indera. Tapi manusia merasakan keberadaannya. Tidaklah pula akal dapat di-indera. Tapi manusia melakukan aktivitas berpikir. Tidaklah denyut nadi dalam diri manusia dalam perintahnya. Ia berdenyut mengikuti ketetapan. Ketetapan yang bukan dari dirinya. 

Andai, akalnya terus berpikir, berpikir tentang dirinya. Tentang rambut di kepalanya hingga ujung kakinya. Tentang tumbuh kembang dirinya. Tentang semua potensi jasmaninya. Tidaklah sulit lisanya untuk berkata, " Aku ada, tapi kendali sistem tubuhku bukan di tanganku".

Inilah perjalanan akal, jika ia terus berpikir, ia akan bertanya, " Siapa pemegang kendali sistem tubuhku?" Bila akalnya sehat, ia akan berfikir adanya Tuhan. Dan ia akan melanjutkan berpikirnya hingga menemukan siapa Tuhan yang benar itu?

Bukan semata Tuhan pencipta dirinya. Tapi Tuhan pencipta semesta alam. Jika alam semesta di-ibaratkan sebagai suatu himpunan, maka Tuhan sebagai pencipta alam semesta itu bukan anggota himpunan semesta alam, bukan pula subset (himpunanan bagian) dari semesta alam. Karena jika anggota dan subset dari semesta alam, berarti Tuhan itu makhluk, bukan al khâliq (pencipta) semesta alam.

Dari sini, maka akal yang berpikir bisa menyimpulkan, bahwa Tuhan itu bukan matahari, bulan, pohon, lautan, bintang, apalagi patung. Karena itu semua bagian dari alam semesta. 

Dan jika Tuhan bukan anggota dan bukan pula subset semesta alam, maka logis bila mata manusia tidak bisa menjangkau wujudnya. Bukankah yang di semesta alam ini saja, hanya sedikit yang mampu dijangkau indera manusia? 

Bahkan yang keluar dari dirinya sendiri, seperti wujud kentut, bau, ataupun di luar dirinya seperti angin tidak dapat dilihatnya?. Sampai disini, jadi mudahkan, melogika ketika Tuhan tidak dapat di-indera mata manusia?

Jika manusia terus berpikir, ia akan berkata, "Mataku terbatas, dan bukan aku yang menjadikannya terbatas" 

Semakin sadar dan semakin sadar. Manusia bagian dari alam semesta. Manusia hanyalah makhluk diantara trilyunan makhluk lainnya.

Atas Tuhan Dibutuhkan Iman

Dalam pembahasan Tuhan, maka perangkat inti yang dibutuhkan manusia adalah iman, bukan logika. Logika itu alat untuk menghantarkan pada iman. Bahkan tanpa berlogika dulu, iman pada Tuhan itu bisa. Buktinya adalah anda yang lahir dari keluarga beriman, dijadikan oleh kedua orang tua anda menjadi anak yang beriman. 

Adapun tempat iman itu dalam hati. Sedangkan hati tempatnya perasaan. Bukan semata perasaan untuk menilai bersih atau kotor. Lebih tinggi dari itu, hati bisa menimbang benar atau salah. Maka agar iman tidak dibangun dari perasaan semata, dan bukan suatu kebetulan ketika pada diri manusia diberi software bernama akal, ada maksud dari setiap penciptaan, termasuk akal, yaitu agar manusia berpikir, diantaranya berpikir akan Tuhannya. 

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Tuhan itu bukan anggota dan bukan pula subset semesta alam. Karena Dia pencipta semesta alam, Dia adalah alkhâliq, Dia adalah rabbul 'âlamîn -Tuhan semesta alam-.

Tuhan itu bila berbilang maka diantara mereka pastilah makhluk. Jika makhluk maka tidak bisa disebut sebagai Tuhan. Maka Tuhan itu mengharuskan Dia esa. Keesaan inilah yang menghilangkan peluang Tuhan itu diciptakan. Jadi, Tuhan itu ahad. Tidak beranak, tidak diperanakkan. 

Maha Benar Allah subhânahu wa ta'ala dengan segala firmanNya. Dan kami beriman kepada Allah subhânahu wa ta'ala. Maka catatlah kami ya rabb, sebagai hamba yang beriman. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.

Wallâhua'lam bis shawâb.

Jumat, 25 Juli 2025

Dalam Sehari

Manusia

Setiap hari berkata, berbuat, berpikir dan istirahat

Bila dihitung, dan sepertinya tidak ada yang mau menghitungnya

Ada berapa banyak kata yang telah terucap?


Tidak berbeda dengan perbuatan

Dalam sehari, seseorang kesulitan juga mengingat bahkan menghitung apa yang telah dilakukan tangannya, matanya, kakinya.

Tapi, siapa juga manusia yang mau mendatanya.


Berpikir apalagi lagi.

Manusia selalu berpikir, tapi tidak mudah merekam apa saja yang telah dipikirkan sejak bangun tidurnya sampai tidur lagi.


Dan hal berbeda dengan tidur (istirahat). 

Hampir semua orang yang tidak dalam kondisi pikun, hilang akal, akan bisa menghitung berapa kali dalam sehari ini tidur.


Inilah diantara ayat Tuhan kalian

Yang ada pada diri manusia

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبۡتِغَآؤُكُم مِّن فَضۡلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَسۡمَعُونَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 23)


Allah subhânahu wa ta'ala merekam semuanya yang terjadi

Semua yang dilakukan makhlukNya.

Bahkan apa yang dilakukan hatinya manusiapun Allah Subhanahu wa ta'ala merekamnya.

Allah subhânahu wa ta'ala berfirman:

قُلۡ إِن تُخۡفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمۡ أَوۡ تُبۡدُوهُ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُ ۗ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٞ

"Katakanlah, "Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya." Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 29)


Dan yang paling amazing

Semua yang dikatakan, diperbuat, dipikirkan hingga tidur yang dilakukan manusia adalah menyibak tabir lauh mahfuzNya.

Karena semua telah tertulis dalam lauh mahfuzNya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٍ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٍ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٍ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

"Dan tidaklah engkau berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur'an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di Bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Yunus 10: Ayat 61)

Nah, apa yang tertulis di dalam lauh mahfuzNya untuk anda hari ini?

Jawab sendiri-sendiri ya.

Rabu, 02 Juli 2025

Tempat-Tempat Bersejarah di Kota Madinah

Siapa yang pernah ke Madinah? 

Apabila belum, kenalan dulu yuk dengan beberapa tempat bersejarah di kota Madinah. Dengan mengenalnya terlebih dahulu, semoga ke depan bisa berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Âmîn.

1. Masjid Quba

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad ﷺ setelah sampai di Madinah. Waktu itu namanya belum Madinah, tetapi Yasrib. Nabi Muhammad ﷺ sampai di Madinah dari Makkah pada tahun 1 H/ 622 M. Posisi Quba ini di sebelah tenggara kota Madinah, berjarak plus minus 5 km. 

Masjid Quba ini disebutkan dalam Alquran. Allah ﷻ berfirman;

لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ 

Janganlah engkau melaksanakan salat di dalamnya (masjid itu) selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama lebih berhak engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri”. (QS. At Taubah: 108)

2. Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain artinya masjid dua kiblat. Di masjid inilah Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan Allah subhânahu wa ta'ala untuk mengubah kiblatnya. Dari awalnya menghadap Masjidil Aqsha berganti ke ka'bah di Masjidil Haram. Untuk itulah disebut dengan Masjid Qiblataini. Dan sebelum berubah nama menjadi Masjid Qiblataini, masjid ini bernama Masjid Bani Salamah, karena dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah.  

3. Masjid Nabawi

Masjid Nabawi dibangun pada tahun 1 Hijriah, ukurannya pada waktu itu 35 x 30 meter. Dan Rasulullah ﷺ terlibat langsung dalam pembangunan Masjid Nabawi ini. Waktu itu atapnya dari dahan kurma, temboknya dari batu, tiangnya dari batang kurma. Adapun Masjid Nabawi saat ini telah mengalami perluasan, megah, hingga bisa menampung 1 jutaan jamaah. Di Masjid ini pula ada makam Nabi Muhammad ﷺ dan 2 sahabatnya yaitu Abu Bakar ash Shidiq dan Umar bin Khattab. 

Dalam hadistnya, Rasulullah ﷺ bersabda, “ Satu kali shalat di Masjidku ini lebih besar pahalanya daripada seribu shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjid al Haram. Satu kali shalat di Masjid Al Haram lebih utama dari pada seratus ribu kali shalat di masjid lainnya” (HR. Ahmad)

4. Jabal Magnet

Jabal Magnet atau gunung magnet ini berada di daerah Mantiqo Baidho sekitar 30 km di luar Madinah. Disebut dengan jabal magnet karena tempat ini mengandung magnet yang begitu besar sehingga kendaraan yang melewati lokasi ini bisa tertahan lajunya atau terdorong hingga kecepatan 120 km/jam tanpa memasukkan gigi persneling mobil.   

5. Bukit Uhud

Bukit Uhud adalah saksi peristiwa bersejarah yaitu pertempuran kaum muslimin dengan kafir Quraisy. Bukit ini melihat langsung bagaimana proses kaum muslimin yang meraih kemenangan dalam peperangan itu, hingga kemudian bisa berubah menjadi kekalahannya. Di perang Uhud inilah paman Nabi ﷺ yaitu Hamzah bin Abdul Muthollib syahid. Jabal Uhud berada sekitar 5 km dari kota Madinah, dan kini telah dipenuhi dengan hunian, jalan dan lainnya. 

6. Percetakaan Alquran 

Percetakan Alquran di Madinah ini adalah percetakan Alquran terbesar di dunia. Dalam setahun percetakan ini bisa mencetak sekitar 8 juta eks Alquran. Percetakan Alquran ini dibangun di lahan Malik Fahd. Dibangun tahun 1405 H/1984 M.

Itulah diantara tempat-tempat bersejarah yang ada di kota Madinah Al Munawwarah. Semoga kita di-izinkan Allah ﷻ untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah tersebut. Âmîn.

Sumber: The Amazing Islamic Legacy, Alquran Alkarim Cordoba

Selasa, 01 Juli 2025

Perempuan Dalam Alquran, Siapa Saja?

Alquran telah menyebutkan beberapa perempuan dengan latar yang berbeda-beda. Untuk urutan no 1 sampai 6 bisa dibaca di link berikut ini;

https://menggoreskanide.blogspot.com/2025/06/perempuan-dalam-alquran-siapa-saja.html?m=1

Adapun urutan no 7 sampai 13 bisa dibaca di link berikut ini;

https://menggoreskanide.blogspot.com/2025/06/perempuan-dalam-alquran-siapa-saja_19.html?m=1

Dan urutan selanjutnya, sebagaimana uraian berikut ini.  

14. Istrinya Nabi Luth 'alaihissalam

Nabi Luth 'alaihissalam diutus kepada kaum dengan kondisi kaumnya memiliki kelainan dalam pemikiran dan perasaan. Mereka berpikiran benar kalau berhubungan sesama jenis. Dan perasaan mereka puas dengan hal itu.

Tugas berat bagi Nabi Luth membenahi pemikiran dan perasaan kaumnya. Tugas itu semakin berat ketika istrinya sendiri bersekutu dengan kaum gay tersebut. 

Istri Nabi Luth menjadi bukti bahwa iman itu karunia dari Allah subhânahu wa ta'ala. Istri seorang Nabi belum tentu dikarunia kemudahan dalam menerima hidayah yang datang kepadanya. 

Ya, di dakwahi tidak mempan, ditunggu-tunggu tidak segera taubat, turunlah utusan dari langit untuk mengazab mereka. Dan salah satu yang terkena azab itu adalah istrinya Nabi Luth sebagaimana disebutkan di ayat berikut ini.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَلَمَّآ أَن جَآءَتۡ رُسُلُنَا لُوطًا سِيٓءَ بِهِمۡ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعًا ۖ وَقَالُواْ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ

"Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka (para utusan) berkata, "Janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia termasuk orang-orang yang tinggal (dibinasakan)." (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 33)

15. Istri Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam

Rasulullah shallallâhu 'alahi wa sallam nabi penutup beristrikan 1 orang yaitu Sayyidah Khadijah. Bertambahnya istri beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam setelah wafatnya Sayyidah Khadijah. Beliau menikahi 10 wanita setelah wafatnya Sayyidah Khodijah. Dengan demikian total istri beliau ada 11 orang; Khadijah binti Khuwalid, Aisyah binti Abu Bakar, Saudah binti Zam'ah, Hafshah binti Umar, Juwariyah binti Al Harist, Shafiyah binti Huyay, Maymunah, Zainab binti Jahsyi, Ummu Salamah, Ramlah binti Abu Safyan, Zainab binti Khuzaimah.

Dan Qs Al Ahzab ayat 28 ini mewakili penyebutan istri-istri beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam. Quran surah al Ahzab ini termasuk surah madaniyah, berarti minus Sayyidah Khodijah yang sudah wafat. Dan di ayat yang lain seperti Qs At Tahrim ayat 3 disebutkan kisah Aisyah dan Hafshah. Dan di QS Al Ahzab ayat 37 ada kisah Zainab. Berikut ayat yang mewakili penyebutan istri-istri Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam. 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَٰوةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

"Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik."" (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 28)

16. Sarah

Sayyidah Sarah mirip dengan istri Nabi Zakaria. Yaitu mengalami masa kehamilan di usia lanjut. Sayyidah Sarah adalah istri Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Bayi yang dikandung Sayyidah Sarah di usia lanjut itu adalah Nabi Ishak 'alaihissalam. Berikut ayat yang menyebutkan keberadaan Sayyidah Sarah yang terkejut saat diberi informasi bahwa ia bakal mengandung Nabi Ishak 'alaihissalam.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

فَأَقۡبَلَتِ ٱمۡرَأَتُهُۥ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ

"Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, "(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul."" (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 29)

17. Wanita yang Mengajukan Gugutan Kepada Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam

Wanita yang mengadu kepada Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam tersebut adalah Khaulah binti Tsa'labah sebagaimana diceritakan oleh Aisyah berikut ini.

Aisyah radiyallâha berkata, "Maha suci Dzat yang pendengaranNya meliputi segala sesuatu. Sesungguhnya aku pernah mendengar Khaulah binti Tsa'labah yang mengadukan suaminya Aus bin Shamit kepada Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam..." (HR Hakim).

Peristiwa Khaulah binti Tsa'labah inilah yang menjadi sebab nuzul turunnya ayat berikut ini.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ

"Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 1)

18. Asiyah 

Fir'aun memiliki beberapa istri salah satunya Asiyah. Asiyah satu-satunya istri Fir'aun yang beriman. Dan Asiyah memberikan teladan dalam berpegang teguh dalam keimanan. Kemegahan istina Fir'aun tidak menarik hatinya. Ia memilih keimanan meski bertaruh nyawa.

Berikut ayat Alquran yang menyebutkan Asiyah ketika berdoa memohon diselamatkan dari kejahatan Fir'aun dan meminta dibangunkan rumah di surga.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتًا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun, ketika dia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,"" (QS. At-Tahrim 66: Ayat 11)

19. Istri Nabi Nuh 'alaihissalam

Istri Nabi Nuh 'alaihissalam menjadi pelajaran bahwa perkara keimanan itu tidak dipaksakan sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al Baqarah: 256. Maka Nabi Nuh pun hanya mendakwahi dan menyampaikan tugasnya, dan tidak menggunakan tangan besi memaksa istrinya beriman kepada Allah subhânahu wa ta'ala. Kisah ini juga memberi pelajaran bahwa siapa yang disesatkan Allah subhânahu wa ta'ala maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk, meski suaminya sendiri. Maka bersyukurlah bagi pemilik akal dan hati yang itu mudah menerima kebenaran. 

Berikut ayat yang menyebutkan istri Nabi Nuh 'alaihissalam.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡهُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيۡئًا وَقِيلَ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ

"Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh, dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), "Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)."" (QS. At-Tahrim 66: Ayat 10)

20. Istri Abu Lahab

Surah terakhir yang menyebutkan keberadaan perempuan di dalamnya adalah Quran Surah al Lahab. Surah yang menerangkan kisah Abu Lahab dan istrinya. Persekutuan sepasang suami istri dalam menyakiti Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam. 

Berikut ayat yang menyebutkan keberadaan istri Abu Lahab. 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ

"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah)." (QS. Al-Lahab 111: Ayat 4)

Inilah perempuan-perempuan yang tersebut dalam Alquran yang penulis temukan. Wallâhua'lam apabila masih ada yang terlewat. 

Khatimah

Alquran telah menyebutkan banyak perempuan dalam Alquran. Dan tidak bisa ditetapkan berapa jumlahnya. Keberadaan perempuan-perempuan temannya istri Al Aziz menjadikan angka itu tidak bisa ditemukan. 

Adapun yang dapat di-identifikasi bahwa Alquran telah menyebutkan wanita yang beriman dan tidak beriman. Dari mereka bisa diambil pelajaran. Dan semoga hingga menghadap Allah subhânahu wa ta'ala, kita semuanya ditetapkan sebagai hamba yang beriman. Âmîn yâ rabbal'âlamîn.

Kamis, 19 Juni 2025

Perempuan Dalam Alquran, Siapa Saja?

Perempuan yang disebutkan dalam Alquran untuk urutan no 1-6 bisa dibaca dilink berikut ini : https://menggoreskanide.blogspot.com/2025/06/perempuan-dalam-alquran-siapa-saja.html?m=1

Adapun urutan selanjutnya adalah sebagai berikut;

7. Rahel (Ibunya Nabi Yusuf 'alaihissalam)

Nabi Yusuf 'alaihissalam adalah anak dari Nabi Ya'kub 'alaihissalam. Nabi Ya'kub ini menikahi 2 wanita bersaudara yaitu Rahel dan Lea. Nah dari pernikahan Nabi Ya'kub dengan Rahel menghasilkan keturunan Nabi Yusuf 'alaihissalam dan Bunyamin.

Ibunya Nabi Yusuf ini di Alquran tidak menyebutkan namanya, tapi disebut dengan kedua orangtuanya. Orang tuanya Nabi Yusuf tersebut berarti Nabi Ya'kub dan Rahel. Berikut ayat yang menceritakannya. 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَرَفَعَ أَبَوَيۡهِ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ وَخَرُّواْ لَهُۥ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأۡوِيلُ رُءۡيَٰيَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِيٓ إِذۡ أَخۡرَجَنِي مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بَيۡنِي وَبَيۡنَ إِخۡوَتِيٓ ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٞ لِّمَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ

"Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, "Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." (QS. Yusuf 12: Ayat 100)

8. Sayyidah Hajar

Hajar adalah buyut dari Nabi Yusuf. Tapi bukan buyut sedarah, kalau orang sekarang menyebutnya dengan buyut tiri. Jadi Sayyidah Hajar ini adalah istrinya Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Nabi Ibrahim memiliki anak Nabi Ismail (dari istri Hajar) dan Nabi Ishak (dari istri Sarah). Nah Nabi Ishak punya anak, Nabi Ya'kub. Nabi Ya'kub punya anak, Nabi Yusuf. Sampai sini jadi mengerti ya garis besar silsilah keluarga Nabi Ibrahim 'alaihissalam. 

Nah, penyebutan sayyidah Hajar dalam Alquran adalah tidak langsung menyebutkan namanya, tapi dengan perbuatan Nabi Ibrahim ketika berdoa kepada Allah subhânahu wa ta'ala bahwasannya beliau meninggalkan dzurriyah (Nabi Ismail) yang ia waktu itu bersama Sayyidah Hajar di lembah dekat Ka'bah. Penunjuk bahwa bayi Nabi Ismail tidak ditinggal sendirian, tapi bersama ibunya yaitu Hajar adalah kata ganti jamak (hum) pada kata إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم. 

Berikut ayat yang menjelaskan akan hal ini.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَٰوةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡئِدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

"Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim 14: Ayat 37)

9. Istrinya Nabi Zakaria 'alaihissalam

Nabi Zakaria adalah pamannya Maryam (ibunya Nabi Isa 'alaihissalam). Kisahnya, Nabi Zakaria hingga diusia lanjut belum punya keturunan. Dan istrinya disebut mandul. Sepasang suami istri ini yaitu Nabi Zakaria dan istrinya adalah teladan dalam kesetiaan. Meski belum dikarunia keturunan hingga usia lanjut mereka tidak berpisah juga tidaklah Nabi Zakaria menikahi wanita lain. Hingga suatu hari Nabi Zakaria berdoa di mihrabnya Maryam meminta keturunan. Dan berkat keberkahan mihrabnya Maryam, doa Nabi Zakaria diijabah saat beliau berdiri shalat. Malaikat menyampaikan kabar akan lahirnya Nabi Yahya dari rahim istrinya. Dan berikut ayat yang menyebutkan keberadaan istri Nabi Zakaria. 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا

"Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu," (QS. Maryam 19: Ayat 5)

10. Ratu Balqis 

Satu-satunya raja perempuan yang disebutkan dalam Alquran adalah ratu Balqis. Ia dari negeri Saba'. Dia dan kaumnya menyembah matahari. Penyebutan ratu Balqis dalam Quran surah An Naml, dengan tidak menyebutkan namanya langsung. 

Ratu Balqis contoh wanita yang mudah menerima kebenaran setelah melihat bukti yang nyata. Diakhir acara setelah bertemu dengan Nabi Sulaiman 'alaihissalam, ratu Balqis menyatakan keimanannya kepada rabbul'âlamîn -Allah subhânahu wa ta'ala-. 

Berikut salah satu ayat Alquran yang menyebutkan ratu Balqis ketika ia berdialog dengan para pejabatnya. 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ إِنِّيٓ أُلۡقِيَ إِلَيَّ كِتَٰبٞ كَرِيمٌ

"Dia (Balqis) berkata, "Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia."" (QS. An-Naml 27: Ayat 29)

11. Ibunya Nabi Musa 'alaihissalam

Ibunya Nabi Musa mengandung Nabi Musa dimasa pemerintahan Firaun yang kejam. Ia membunuh hidup-hidup bayi laki-laki melalui tangan tentaranya. Dan untuk menyelamatkan bayi Nabi Musa, ibunya punya ide dengan ilham dari Allah subhânahu wa ta'ala untuk menghayutkan Nabi Musa ke sungai nil. Berikut ayat yang menceritakan hal itu sekaligus ayat yang menyebutkan keberadaan ibu Nabi Musa 'alaihissalam dalam Alquran.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفۡتِ عَلَيۡهِ فَأَلۡقِيهِ فِي ٱلۡيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحۡزَنِيٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيۡكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ

"Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Rasul."" (QS. Al-Qasas 28: Ayat 7)

12. Saudara perempuan Nabi Musa 

Nabi Harun adalah saudara kandung Nabi Musa. Nah mereka juga memiliki saudara kandung perempuan. Nah penyebutan saudara perempuan Nabi Musa ini diterangkan di ayat berikut ini;

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَقَالَتۡ لِأُخۡتِهِۦ قُصِّيهِ ۖ فَبَصُرَتۡ بِهِۦ عَن جُنُبٍ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ

"Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, "Ikutilah dia (Musa)." Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya,"(QS. Al-Qasas 28: Ayat 11)

13. Dua Anaknya Syekh Madyan

Syekh Madyan ini dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan ada yang berpendapat itu adalah Nabi Syuaib. Ada juga yang berpendapat itu keponakan Nabi Syuaib, dan pendapat berikutnya Syeikh Madyan itu adalah orang Shalih di wilayah Madyan. 

Karena ada beda pendapat maka penulis memilih untuk tetap menyebutnya dengan Syeikh Madyan sebagaimana dalam terjemah Alquran. 

Penyebutan dua puteri Syeikh Madyan dalam Alquran adalah ketika Allah subhânahu wa ta'ala menceritakan kisah mereka yang antri memberi minum ternak mereka. Inilah jalan bagi Nabi Musa 'alaihissalam bertemu dengan jodohnya. Setelah menolong dua perempuan itu dalam memberikan minum ternaknya, Nabi Musa diundang untuk menghadap Syekh Madyan. Dan dialog demi dialog, jadi deh Syekh Madyan itu menawarkan kepada Nabi Musa untuk menikahi salah satu puterinya.

Dua puteri Syeikh Madyan ini contoh anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Berikut salah satu ayat yang menyebutkan keberadaan dua puteri Syeikh Madyan tersebut.

Allah Subhanahu wa taala berfirman:

فَجَآءَتۡهُ إِحۡدَىٰهُمَا تَمۡشِي عَلَى ٱسۡتِحۡيَآءٍ قَالَتۡ إِنَّ أَبِي يَدۡعُوكَ لِيَجۡزِيَكَ أَجۡرَ مَا سَقَيۡتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيۡهِ ٱلۡقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفۡ ۖ نَجَوۡتَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, "Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikanmu memberi minum ternak) kami." Ketika (Musa) mendatangi ayah wanita itu (Syeikh Madyan) dan dia (Syeikh Madyan) menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, "Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu."" (QS. Al-Qasas 28: Ayat 25)

Bersambung...


Senin, 16 Juni 2025

Perempuan Dalam Alquran, Siapa Saja?

Siapa saja wanita yang disebut dalam Alquran? Dan kalau dihitung-hitung ketemukah jumlahnya?

Penyebutan perempuan oleh Alquran, tidak ada kaitannya dengan emansipasi ataupun kesetaraan gender.

Alquran diturunkan sekitar 14 abad yang lalu. Adapun gerakan feminis yang mengusung kesetaraan gender dan emanspasi muncul di akhir abad 18 M. Gerakan ini efek dari perlakuan yang dirasa tidak adil terhadap perempuan di dunia Barat, yang tidak berhukum berdasarkan Alquran dan Alhadist. 

Allah subhânahu wa ta'ala tidak mengajarkan kesetaraan gender. Allah subhânahu wa ta'ala memandang laki-laki dan perempuan adalah sama, tingkat ketakwaannya yang menjadikan mereka bisa lebih mulia di hadapan Allah subhânahu wa ta'ala. Laki-laki memiliki peran dalam kehidupan sebagaimana ketentuan syara', demikian pula perempuan. 

Allah subhânahu wa ta'ala Yang Maha Mengurusi, mengurus dan memelihara semua manusia yang diciptakanNya. 

Dengan demikin, perempuan dalam Islam, tidak perlu memperjuangkan kesetaraan gender ataupun emanispasi. Yang harus mereka perjuangkan adalah pelaksanaan peran sebagaimana perintah Allah subhânahu wa ta'ala dan RasulNya. 

Diantara Wanita yang Tersebut Dalam Alquran

Ada hukum, pelajaran, dan hikmah dari perempuan yang disebutkan dalam Alquran. Dan berikut diantara sosok perempuan yang tersebut dalam Alquran. Penulis urutkan sesuai urutan surah Alquran yang menyebutkan mereka.

1. Sayyidah Hawa

Sayyidah Hawa (istri Nabi Adam 'alaihissalam) adalah sosok wanita pertama yang diciptakan Allah subhânahu wa ta'ala. Dan penyebutannya dalam Alquran menempati posisi pertama bersama Nabi Adam 'alaihissalam, yaitu dalam Quran Surah Albaqarah. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَقُلۡنَا يَٰٓئَادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُـلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Dan Kami berfirman, "Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!"" (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 35)

2. Hannah (Istrinya Imran)

Imran seorang shalih yang nama keluarganya menjadi nama surah ketiga dari Alquran yaitu Ali Imran. Imran memiliki istri shalihah bernama Hannah, ia sangat menginginkan melahirkan keturunan yang mengabdi kepada Allah subhânahu wa ta'ala menjadi penjaga Masjidil Aqsha. Nah, waktu itu yang boleh menempati posisi istimewa di Masjidil Aqsha adalah hanya anak laki-laki. Maka Hannahpun berharap terlahir dari rahimnya anak laki-laki. 

Itikad Hannah untuk menjadikan anaknya sebagai hamba yang mengabdi kepada Allah subhânahu wa ta'ala, sampai ia nadzarkan sebagaimana disebutkan di ayat berikut ini. Dan ayat ini sekaligus menjadi ayat penyebutan atas diri Hannah dalam Alquran.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

"(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."" (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 35)

3. Maryam binti Imran

Keturunan yang diharapkan oleh Imran dan istrinya, akhirnya terkabulkan. Hannah melahirkan seorang bayi yang diberkahi. Tapi, bukan bayi laki-laki, melainkan bayi perempuan. Bayi tersebut diberi nama Maryam. Dan meski ia seorang perempuan, maka Hannah tetap melaksanakan nadzarnya. 

Maryam berkembang dan tumbuh. Ia pun mengabdikan dirinya kepada Allah subhânahu wa ta'ala. Ia memiliki mihrab khusus di Masjidil Aqsha. Pengurusan Maryam selanjutnya diserahkan kepada pamannya yaitu Nabi Zakaria 'alaihissalam. Hal ini sebagaimana diterangkan di ayat berikut ini. Dan ayat ini sekaligus menjadi ayat yang menyebutkan Maryam dalam Alquran.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقًا ۖ قَالَ يَٰمَرۡيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ

"Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, "Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?" Dia (Maryam) menjawab, "Itu dari Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 37)

4. Tiga menantu Nabi Nuh 'alaihissalam

Nabi Nuh 'alaihissalam adalah nabi dengan usia hidup 1000 tahun dikurang 50 tahun. Sepanjang ia hidup yang menurut ukuran manusia milineal sekarang adalah waktu yang luar biasa lama hidup di dunia, ia berdakwah hanya 6 orang yang mengimani apa yang beliau dakwahkan. Bahkan anaknya sendiri (Kan'an) tidak mengimani ajarannya. 

Keenam orang tersebut ada dalam bahtera kapal penyelamat yang dibuat Nabi Nuh 'alaihissalam atas perintah Allah subhânahu wa ta'ala. Dalam tafsir Ath Thabari dijelaskan bahwa ke enam orang tersebut adalah 3 anaknya dan 3 perempuan menantunya. Dengan demikian 3 perempuan menantu Nabi Nuh 'alaihissalam ini adalah wanita beriman yang taat. Penyebutan mereka sebagaimana diterangkan di ayat berikut ini.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَمۡرُنَا وَفَارَ ٱلتَّنُّورُ قُلۡنَا ٱحۡمِلۡ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوۡجَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِ وَأَهۡلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيۡهِ ٱلۡقَوۡلُ وَمَنۡ ءَامَنَ ۚ وَمَآ ءَامَنَ مَعَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٞ

"Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, "Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman." Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit." (QS. Hud 11: Ayat 40)

5. Istri Al Aziz

Al Aziz sebagai pembesar Mesir waktu itu memiliki istri. Dan ia pun memiliki pembantu yang tidak umum. Kenapa tidak umum? Karena pembantunya tersebut adalah Nabi Yusuf 'alaihissalam. Nabi Yusuf tinggal serumah dengan majikannya itu. Ayat berikut menyebutkan keberadaan istri Al Aziz sekaligus kisah fitnah yang hampir menimpa Nabi Yusuf 'alaihissalam dengan wanita tersebut.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٰبَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ رَبِّيٓ أَحۡسَنَ مَثۡوَايَ ۖ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ

"Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, "Marilah mendekat kepadaku." Yusuf berkata, "Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung." (QS. Yusuf 12: Ayat 23)

6. Perempuan-Perempuan Temannya Istrinya Al Aziz 

Angin pembawa berita gosip atas peristiwa yang menimpa Nabi Yusuf 'alaihissalam dengan sepoi-sepoi menyebar di kalangan wanita-wanita Mesir. Mengetahui berita tentang dirinya menyebar, istri Al Aziz pun jengkel. Ia mengumpulkan wanita-wanita yang mengosip tentang dirinya, untuk ditunjukkan kepada mereka seperti apa sosok Nabi Yusuf 'alaihissalam itu.

Dan berikut ayat yang menceritakan kisah wanita-wanita temannya istrinya al Aziz dan sekaligus ayat ini menjadi bukti penyebutan mereka dalam Alquran.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَقَالَ نِسۡوَةٞ فِي ٱلۡمَدِينَةِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفۡسِهِۦ ۖ قَدۡ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِي ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

"Dan perempuan-perempuan di kota berkata, "Istri Al 'Aziz menggoda dan merayu pelayannya untuk menundukkan dirinya, pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta. Kami pasti memandang dia dalam kesesatan yang nyata."" (QS. Yusuf 12: Ayat 30)

Bersambung...

Dipun Waos Piantun Kathah